Saturday, July 9, 2016

Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ:

عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.

Kaum muslimin rahimakumullah,
Bagi sebagian orang, memahami masalah takdir tidaklah mudah. Buktinya, dalam hal ini banyak di antara kaum muslimin yang terjebak pada salah satu di antara dua kutub kesesatan yang saling berlawanan.
Pertama: Kesesatan Jabariyah. Yaitu golongan yang berlebihan dalam masalah takdir hingga menganggap bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan tidak memiliki pilihan untuk berbuat. Semua serba dipaksa oleh Allah, laksana gerakan getar tubuh yang tidak dapat dikendalikan oleh pemiliknya.
Kedua: Kesesatan Qadariyah. Yaitu golongan yang berlebihan menolak takdir hingga semua kegiatan manusia tidak dicampuri oleh Allah Azza wa Jalla dan kehendak-Nya.
Mengapa demikian? Sebab dalam memahami takdir, sebagian orang lebih banyak berpijak pada asas logika. Padahal masalah takdir termasuk perkara ghaib yang tidak akan dapat dijangkau detail-detailnya hanya berdasarkan logika. Bukan wilayah logika untuk memahami takdir dengan tuntas. Ia harus dipahami berdasarkan wahyu dan keimanan. Ketika takdir sudah terjadi pun, kadang orang tidak mampu menangkap hikmah yang terkandung di baliknya.
Yang pasti, takdir Allah Azza wa Jalla harus diimani sebagaimana orang mengimani ketetapan syariat-Nya. Keduanya merupakan ketetapan AllahSubhanahu wa Ta’ala. Ketika orang menjalankan ketetapan-ketetapan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengimaninya, misalnya syariat shalat, orang juga harus mengimani ketetapan takdir Allah Azza wa Jalla, misalnya takdir hidup, mati, laki-laki, perempuan, sakit, miskin, dan takdir-takdir lainnya. Karena semuanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pencipta alam semesta dan penetap syariat bagi sekalian hamba-Nya.
Iman kepada takdir merupakan salah satu rukun dan asas keimanan di antara rukun Iman yang enam. Barangsiapa yang mengingkari takdir, maka ia bukanlah seorang mukmin yang sesungguhnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Malaikat Jibril Alaihissallam tentang Iman, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. رواه مسلم

“Iman ialah jika engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhirat, dan jika engkau beriman kepada takdir, baiknya dan buruknya.” (HR. Muslim).
Jadi orang yang beriman adalah orang yang beriman kepada takdir, dan beriman kepada rukun-rukun iman lainnya. Sebab, takdir merupakan kekuasaan, kewenangan dan kehendak Allah Azza wa Jalla. Iman kepada takdir, tidak bisa dipisahkan dengan Iman kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada rukun-rukun iman yang lain. Semua saling terkait erat. Maka orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada Malaikat-malaikat-Nya, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari akhirat, harus pula beriman kepada takdir.
Sebagaimana halnya nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla serta masalah ghaib lainnya, takdir juga merupakan masalah yang diluar jangkauan akal manusia. Maka kebenaran dalam memahami takdir harus sesuai dengan petunjuk wahyu yang datangnya dari Allah Azza wa Jalla, Dzat yang Maha menentukan takdir bagi segala sesuatu. Bukan dengan petunjuk logika atau perasaan orang yang serba terbatas.
Sama halnya ketika orang mengimani Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama dan sifat-Nya pun, harus berdasarkan wahyu. Demikian pula ketika orang menjalankan dan mengimani syariat, juga harus sesuai dengan petunjuk wahyu. Dan di antara wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab Beliau adalah utusan-Nya yang dipercaya untuk menerima dan menyampaikan wahyu-Nya, baik berupa Alquran maupun Sunnah.
Dalam hal ini Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنِّي أُوتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ. رواه أحمد وأبوداود

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi wahyu Alquran, dan yang semisal Alquran (Sunnah) didatangkan bersamanya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Hadits ini menunjukkan bahwa ada wahyu lain yang datang bersama Alquran, yaitu Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Supaya seorang Muslim bisa benar dalam memahami dan mengimani takdir, maka ia harus memahami dan mengimani empat peringkat (perkara) takdir secara benar, seperti dinyatakan oleh para Ulama.
Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Syifa’ul ‘Alil, menyatakan, “Bab kesepuluh tentang peringkat-peringkat Qadha’ dan Qadar. Barangsiapa tidak mengimani peringkat-peringkat ini berarti ia belum beriman kepada Qadha’ dan Qadar”.
Di bawahnya beliau menjelaskan peringkat-peringkat tersebut, beliau katakan: peringkat takdir ada empat:
Pertama: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui segala sesuatu sebelum kejadiannya.
Kedua: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menuliskan segala sesuatu itu (di Lauh Mahfuzh) sebelum kejadiannya.
Ketiga: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha menghendaki kejadian segala sesuatu itu.
Keempat: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menciptakan dan mengadakan segala sesuatu yang telah diketahuinya itu.
Itulah empat peringkat atau empat perkara yang hakikatnya merupakan takdir itu sendiri. Artinya, ketetapan takdir Allah pada hakikatnya tidak lepas dari ilmu pengetahuan Allah Azza wa Jalla terhadap segala sesuatu semenjak sebelum segala sesuatu itu ada, kemudian apa yang diketahuinya ini dituliskan di Lauh Mahfuzh, selanjutnya apa yang diketahui dan dituliskan itu pasti dikehendaki terjadinya oleh Allah Azza wa Jalla . Terakhir, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menciptakan dan mengadakan apa yang telah diketahui dan dikehendaki-Nya itu.
Takdir baik ataupun buruk, iman atau kufur, semuanya merupakan takdir Allah. Sebab Allah Azza wa Jalla sudah mengetahui sebelumnya bahwa itu akan terjadi dan sudah dituliskannya di Lauh Mahfuzh. Dengan demikian, maka pasti Allah menghendaki terjadinya, dan jika Allah menghendaki, pasti Allah akan mengadakannya.
Tidak mungkin Allah menghendaki suatu kejadian sedangkan sebelumnya Allah tidak tahu. Atau mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi, tetapi kemudian Allah menghendaki lain. Misalnya, seseorang yang sudah diketahui Allah bahwa ia akan mati kafir, maka tidak mungkin Allah Azza wa Jalla menghendaki agar ia tidak mati dalam keadaaan kafir. Sebab antara ilmu dan kehendak-Nya tidak mungkin saling berlawanan; Tidak mungkin apa yang diketahui-Nya bertentangan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Maha suci Allah dari hal-hal yang demikian. Tidak mungkin dalam wilayah kekuasaan-Nya terjadi sesuatu yang diluar kehendak-Nya.
Tetapi perlu dipahami bahwa sesuatu yang dikehendaki Allah Azza wa Jallatidak selalu identik dengan sesuatu yang di sukai dan dicintai-Nya. Tidak setiap yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki terjadi, pasti Allah Azza wa Jallasukai. Misalnya, homoseksual terjadi dengan kehendak Allah Azza wa Jalla, tetapi Allah tidak menyukai kema’siatan itu.
Fakta yang semacam ini banyak sekali contohnya. Itulah yang disebut denganiradah kauniyah, kehendak Allah yang bersifat takdir. Salah satu contohnya adalah pencurian. Pencurian tidak akan terjadi tanpa kehendak kauniyah AllahAzza wa Jalla. Buktinya, banyak pencurian yang gagal meskipun sudah dengan perhitungan yang super teliti. Sebab, Allah tidak menghendaki pencurian itu terjadi.
Maka terjadinya pencurian adalah karena kehendak Allah, tetapi apakah lantas berarti pencurian itu diridhai oleh Allah Azza wa Jalla? Tentu tidak. Jadi tidak setiap yang Allah Azza wa Jalla kehendaki terjadi, pasti Allah sukai.
Empat peringkat itu sangat banyak dalilnya, baik dari Alquran maupun Sunnah yang shahih. Dan bahkan merupakan kesepakatan seluruh para Nabi Allah dan kitab-kitab-Nya.
Oleh sebab itu, berkaitan dengan empat peringkat takdir tersebut, Imam Ibnu al-Qayyim selanjutnya menjelaskan, ringkasnya antara lain sebagai berikut:
Adapun yang pertama, yaitu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah terlebih dahulu mengetahui segala sesuatu sebelum segala sesuatu itu terjadi. Ini sudah menjadi kesepakatan seluruh Rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala, mulai dari Rasul Allah yang pertama hingga Rasul Allah penutup. Demikian pula telah menjadi kesepakatan seluruh Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta umat Islam sesudahnya yang mengikuti jejak mereka. Yang menyelisihi kesepakatan mereka adalah golongan Majusinya umat Islam ini. Dan penulisan segala sesuatu di Lauh Mahfuzh sebelum kejadiannya, membuktikan bahwa Allah sudah mengetahui segala sesuatu itu sebelum kejadiannya.
Beliau juga mengatakan hal yang sama tentang peringkat kedua, ketiga, dan keempat, tentang penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, tentang kehendak Allah bagi terjadinya segala sesuatu dan tentang penciptaan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Bahwa hal itu semua juga sudah merupakan kesepakatan seluruh rasul Allah dan kesepakatan semua kitab-Nya yang diturunkan kepada para rasulNya.
Di antara dalil-dalilnya yang sangat banyak antara lain firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan (yang mengandung berkah), dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa hasil yang diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman:34).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَيَعْلَمُهَا إِلاَّ اللهُ: لاَيَعْلَمُ مَا فِى غَدٍ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَاتَغِيْضُ الْأَرْحَامُ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ اللهُ. رواه البخاري

“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang berkurang dari rahim kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hujan datang kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia mati, dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah.” (HR. Bukhari dan lainnya).
Dalam riwayat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ، ثُمَّ قَرَأَ : (إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ …..). رواه البخاري

“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima. Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammembaca firman Allah (Luqman/31: 34): “Sesungghnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat,…”. (HR. Bukhari).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am: 59).
Juga firman-Nya,

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Bukankah engkau mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada di langit maupun bumi. Sesungguhnya yang demikian itu sudah tertulis di dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya penulisan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70).
Dua ayat di atas merupakan sebagian dalil tentang penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, sekaligus juga dalil tentang ilmu Allah terhadap segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, dan tidak ada sesuatupun yang tidak tertuliskan di Lauh Mahfuzh. Penulisan itu sangatlah mudah bagi Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda antara lain,

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ. قَالَ : وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ. رواه مسلم

“Allah telah menuliskan ketetapan takdir bagi segenap makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi. Nabi bersabda: Dan (waktu itu) Arsy-Nya sudah ada di atas air.” (HR. Muslim).
Demikianlah kekuasaan Allah dalam menetapkan takdir bagi makhluk-Nya. Dia berkuasa atas segala sesuatu. Ilmu-Nya meliputi segala hal. Dialah Rab kita, falaa haula walaa quwwata illaa billaah..

نَسْأَلُ اللهَ الكَرِيْمَ أَنْ يُبَصِّرَنَا جَمِيْعاً بِحُدُوْدِ دِيْنِهِ، وَأَنْ يُفَقِّهَنَا فِي شَرْعِهِ وَتَنْزِيْلِهِ، وَأَنْ يَّمُنَّ عَلَيْنَا بِالرِّزْقِ الطَيِّبِ اَلْحَلَالِ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَمْوَالِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنِانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى.

Kaum muslimin rahimakumullah
Ada banyak hikmah yang terkandung dalam beriman kepada takdir, diantaranya bahwa, beriman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang enam. Di samping itu juga merupakan sempurnanya keyakinan seseorang terhadap tauhid Rububiyah Allah Azza wa Jalla . Kemudian, dengan beriman kepada takdir, akan terwujud tawakkal yang benar kepada Allah tanpa mengabaikan usaha-usaha. Pun orang akan merasa tenang dalam kehidupannya karena memahami bahwa apa yang menimpanya pasti memang harus menimpanya, dan apa yang tidak akan menimpanya pasti tidak akan menimpanya.
Dengan beriman kepada takdir, orang juga tidak akan membanggakan diri sendiri ketika berhasil memperoleh sesuatu yang diinginkannya, dan tidak akan merasa sangat sedih ketika gagal memperolehnya. Sebab ia memahami bahwa kesuksesannya memperoleh sesuatu tidak lain kecuali karena ketetapan takdir dari Allah Azza wa Jalla . Sedangkan usaha yang ia lakukan hingga berhasil mendapatkan sesuatu, bukan lain karena usaha itu merupakan sebab yang dimudahkan oleh Allah baginya. Adapun ketika gagal memperoleh sesuatu, iapun memahami bahwa itu adalah ketetapan Allah, sehingga ia ridha menerimanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkan dua sikap di atas; tidak bangga terhadap diri sendiri ketika sukses meraih cita-cita, dan tidak sedih secara berlebihan ketika gagal meraih sukses, dalam firman-Nya,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴿٢٢﴾لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah . Agar kamu tidak bersedih hati terhadap yang luput dari kamu, dan tidak pula menjadi bangga terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23).
Demikianlah, sebenarnya sangat mudah memahami dan mengimani takdir Allah secara benar, yaitu hanya dengan tunduk kepada wahyu, dan tidak mendewakan akal. Akal harus tunduk kepada wahyu, bukan wahyu tunduk kepada akal. Sementara mengimani takdir tidak berarti meniadakan usaha, karena melakukan usaha merupakan perintah, sedangkan antara perintah dan takdir tidak bertentangan sama sekali. Wallahu al-Muwaffiq…

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَآمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ: اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

(Diadaptasi dari tulisan Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin di majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVI/1433H/2012M).


Wednesday, July 6, 2016

Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ:

عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.

Kaum muslimin rahimakumullah,
Bagi sebagian orang, memahami masalah takdir tidaklah mudah. Buktinya, dalam hal ini banyak di antara kaum muslimin yang terjebak pada salah satu di antara dua kutub kesesatan yang saling berlawanan.
Pertama: Kesesatan Jabariyah. Yaitu golongan yang berlebihan dalam masalah takdir hingga menganggap bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan tidak memiliki pilihan untuk berbuat. Semua serba dipaksa oleh Allah, laksana gerakan getar tubuh yang tidak dapat dikendalikan oleh pemiliknya.
Kedua: Kesesatan Qadariyah. Yaitu golongan yang berlebihan menolak takdir hingga semua kegiatan manusia tidak dicampuri oleh Allah Azza wa Jalla dan kehendak-Nya.
Mengapa demikian? Sebab dalam memahami takdir, sebagian orang lebih banyak berpijak pada asas logika. Padahal masalah takdir termasuk perkara ghaib yang tidak akan dapat dijangkau detail-detailnya hanya berdasarkan logika. Bukan wilayah logika untuk memahami takdir dengan tuntas. Ia harus dipahami berdasarkan wahyu dan keimanan. Ketika takdir sudah terjadi pun, kadang orang tidak mampu menangkap hikmah yang terkandung di baliknya.
Yang pasti, takdir Allah Azza wa Jalla harus diimani sebagaimana orang mengimani ketetapan syariat-Nya. Keduanya merupakan ketetapan AllahSubhanahu wa Ta’ala. Ketika orang menjalankan ketetapan-ketetapan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengimaninya, misalnya syariat shalat, orang juga harus mengimani ketetapan takdir Allah Azza wa Jalla, misalnya takdir hidup, mati, laki-laki, perempuan, sakit, miskin, dan takdir-takdir lainnya. Karena semuanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pencipta alam semesta dan penetap syariat bagi sekalian hamba-Nya.
Iman kepada takdir merupakan salah satu rukun dan asas keimanan di antara rukun Iman yang enam. Barangsiapa yang mengingkari takdir, maka ia bukanlah seorang mukmin yang sesungguhnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Malaikat Jibril Alaihissallam tentang Iman, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. رواه مسلم

“Iman ialah jika engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhirat, dan jika engkau beriman kepada takdir, baiknya dan buruknya.” (HR. Muslim).
Jadi orang yang beriman adalah orang yang beriman kepada takdir, dan beriman kepada rukun-rukun iman lainnya. Sebab, takdir merupakan kekuasaan, kewenangan dan kehendak Allah Azza wa Jalla. Iman kepada takdir, tidak bisa dipisahkan dengan Iman kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada rukun-rukun iman yang lain. Semua saling terkait erat. Maka orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada Malaikat-malaikat-Nya, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari akhirat, harus pula beriman kepada takdir.
Sebagaimana halnya nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla serta masalah ghaib lainnya, takdir juga merupakan masalah yang diluar jangkauan akal manusia. Maka kebenaran dalam memahami takdir harus sesuai dengan petunjuk wahyu yang datangnya dari Allah Azza wa Jalla, Dzat yang Maha menentukan takdir bagi segala sesuatu. Bukan dengan petunjuk logika atau perasaan orang yang serba terbatas.
Sama halnya ketika orang mengimani Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama dan sifat-Nya pun, harus berdasarkan wahyu. Demikian pula ketika orang menjalankan dan mengimani syariat, juga harus sesuai dengan petunjuk wahyu. Dan di antara wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab Beliau adalah utusan-Nya yang dipercaya untuk menerima dan menyampaikan wahyu-Nya, baik berupa Alquran maupun Sunnah.
Dalam hal ini Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنِّي أُوتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ. رواه أحمد وأبوداود

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi wahyu Alquran, dan yang semisal Alquran (Sunnah) didatangkan bersamanya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Hadits ini menunjukkan bahwa ada wahyu lain yang datang bersama Alquran, yaitu Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Supaya seorang Muslim bisa benar dalam memahami dan mengimani takdir, maka ia harus memahami dan mengimani empat peringkat (perkara) takdir secara benar, seperti dinyatakan oleh para Ulama.
Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Syifa’ul ‘Alil, menyatakan, “Bab kesepuluh tentang peringkat-peringkat Qadha’ dan Qadar. Barangsiapa tidak mengimani peringkat-peringkat ini berarti ia belum beriman kepada Qadha’ dan Qadar”.
Di bawahnya beliau menjelaskan peringkat-peringkat tersebut, beliau katakan: peringkat takdir ada empat:
Pertama: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui segala sesuatu sebelum kejadiannya.
Kedua: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menuliskan segala sesuatu itu (di Lauh Mahfuzh) sebelum kejadiannya.
Ketiga: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha menghendaki kejadian segala sesuatu itu.
Keempat: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menciptakan dan mengadakan segala sesuatu yang telah diketahuinya itu.
Itulah empat peringkat atau empat perkara yang hakikatnya merupakan takdir itu sendiri. Artinya, ketetapan takdir Allah pada hakikatnya tidak lepas dari ilmu pengetahuan Allah Azza wa Jalla terhadap segala sesuatu semenjak sebelum segala sesuatu itu ada, kemudian apa yang diketahuinya ini dituliskan di Lauh Mahfuzh, selanjutnya apa yang diketahui dan dituliskan itu pasti dikehendaki terjadinya oleh Allah Azza wa Jalla . Terakhir, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menciptakan dan mengadakan apa yang telah diketahui dan dikehendaki-Nya itu.
Takdir baik ataupun buruk, iman atau kufur, semuanya merupakan takdir Allah. Sebab Allah Azza wa Jalla sudah mengetahui sebelumnya bahwa itu akan terjadi dan sudah dituliskannya di Lauh Mahfuzh. Dengan demikian, maka pasti Allah menghendaki terjadinya, dan jika Allah menghendaki, pasti Allah akan mengadakannya.
Tidak mungkin Allah menghendaki suatu kejadian sedangkan sebelumnya Allah tidak tahu. Atau mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi, tetapi kemudian Allah menghendaki lain. Misalnya, seseorang yang sudah diketahui Allah bahwa ia akan mati kafir, maka tidak mungkin Allah Azza wa Jalla menghendaki agar ia tidak mati dalam keadaaan kafir. Sebab antara ilmu dan kehendak-Nya tidak mungkin saling berlawanan; Tidak mungkin apa yang diketahui-Nya bertentangan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Maha suci Allah dari hal-hal yang demikian. Tidak mungkin dalam wilayah kekuasaan-Nya terjadi sesuatu yang diluar kehendak-Nya.
Tetapi perlu dipahami bahwa sesuatu yang dikehendaki Allah Azza wa Jallatidak selalu identik dengan sesuatu yang di sukai dan dicintai-Nya. Tidak setiap yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki terjadi, pasti Allah Azza wa Jallasukai. Misalnya, homoseksual terjadi dengan kehendak Allah Azza wa Jalla, tetapi Allah tidak menyukai kema’siatan itu.
Fakta yang semacam ini banyak sekali contohnya. Itulah yang disebut denganiradah kauniyah, kehendak Allah yang bersifat takdir. Salah satu contohnya adalah pencurian. Pencurian tidak akan terjadi tanpa kehendak kauniyah AllahAzza wa Jalla. Buktinya, banyak pencurian yang gagal meskipun sudah dengan perhitungan yang super teliti. Sebab, Allah tidak menghendaki pencurian itu terjadi.
Maka terjadinya pencurian adalah karena kehendak Allah, tetapi apakah lantas berarti pencurian itu diridhai oleh Allah Azza wa Jalla? Tentu tidak. Jadi tidak setiap yang Allah Azza wa Jalla kehendaki terjadi, pasti Allah sukai.
Empat peringkat itu sangat banyak dalilnya, baik dari Alquran maupun Sunnah yang shahih. Dan bahkan merupakan kesepakatan seluruh para Nabi Allah dan kitab-kitab-Nya.
Oleh sebab itu, berkaitan dengan empat peringkat takdir tersebut, Imam Ibnu al-Qayyim selanjutnya menjelaskan, ringkasnya antara lain sebagai berikut:
Adapun yang pertama, yaitu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah terlebih dahulu mengetahui segala sesuatu sebelum segala sesuatu itu terjadi. Ini sudah menjadi kesepakatan seluruh Rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala, mulai dari Rasul Allah yang pertama hingga Rasul Allah penutup. Demikian pula telah menjadi kesepakatan seluruh Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta umat Islam sesudahnya yang mengikuti jejak mereka. Yang menyelisihi kesepakatan mereka adalah golongan Majusinya umat Islam ini. Dan penulisan segala sesuatu di Lauh Mahfuzh sebelum kejadiannya, membuktikan bahwa Allah sudah mengetahui segala sesuatu itu sebelum kejadiannya.
Beliau juga mengatakan hal yang sama tentang peringkat kedua, ketiga, dan keempat, tentang penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, tentang kehendak Allah bagi terjadinya segala sesuatu dan tentang penciptaan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Bahwa hal itu semua juga sudah merupakan kesepakatan seluruh rasul Allah dan kesepakatan semua kitab-Nya yang diturunkan kepada para rasulNya.
Di antara dalil-dalilnya yang sangat banyak antara lain firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan (yang mengandung berkah), dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa hasil yang diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman:34).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَيَعْلَمُهَا إِلاَّ اللهُ: لاَيَعْلَمُ مَا فِى غَدٍ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَاتَغِيْضُ الْأَرْحَامُ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ اللهُ. رواه البخاري

“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang berkurang dari rahim kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hujan datang kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia mati, dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah.” (HR. Bukhari dan lainnya).
Dalam riwayat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ، ثُمَّ قَرَأَ : (إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ …..). رواه البخاري

“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima. Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammembaca firman Allah (Luqman/31: 34): “Sesungghnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat,…”. (HR. Bukhari).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am: 59).
Juga firman-Nya,

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Bukankah engkau mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada di langit maupun bumi. Sesungguhnya yang demikian itu sudah tertulis di dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya penulisan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70).
Dua ayat di atas merupakan sebagian dalil tentang penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, sekaligus juga dalil tentang ilmu Allah terhadap segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, dan tidak ada sesuatupun yang tidak tertuliskan di Lauh Mahfuzh. Penulisan itu sangatlah mudah bagi Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda antara lain,

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ. قَالَ : وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ. رواه مسلم

“Allah telah menuliskan ketetapan takdir bagi segenap makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi. Nabi bersabda: Dan (waktu itu) Arsy-Nya sudah ada di atas air.” (HR. Muslim).
Demikianlah kekuasaan Allah dalam menetapkan takdir bagi makhluk-Nya. Dia berkuasa atas segala sesuatu. Ilmu-Nya meliputi segala hal. Dialah Rab kita, falaa haula walaa quwwata illaa billaah..

نَسْأَلُ اللهَ الكَرِيْمَ أَنْ يُبَصِّرَنَا جَمِيْعاً بِحُدُوْدِ دِيْنِهِ، وَأَنْ يُفَقِّهَنَا فِي شَرْعِهِ وَتَنْزِيْلِهِ، وَأَنْ يَّمُنَّ عَلَيْنَا بِالرِّزْقِ الطَيِّبِ اَلْحَلَالِ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَمْوَالِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنِانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى.

Kaum muslimin rahimakumullah
Ada banyak hikmah yang terkandung dalam beriman kepada takdir, diantaranya bahwa, beriman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang enam. Di samping itu juga merupakan sempurnanya keyakinan seseorang terhadap tauhid Rububiyah Allah Azza wa Jalla . Kemudian, dengan beriman kepada takdir, akan terwujud tawakkal yang benar kepada Allah tanpa mengabaikan usaha-usaha. Pun orang akan merasa tenang dalam kehidupannya karena memahami bahwa apa yang menimpanya pasti memang harus menimpanya, dan apa yang tidak akan menimpanya pasti tidak akan menimpanya.
Dengan beriman kepada takdir, orang juga tidak akan membanggakan diri sendiri ketika berhasil memperoleh sesuatu yang diinginkannya, dan tidak akan merasa sangat sedih ketika gagal memperolehnya. Sebab ia memahami bahwa kesuksesannya memperoleh sesuatu tidak lain kecuali karena ketetapan takdir dari Allah Azza wa Jalla . Sedangkan usaha yang ia lakukan hingga berhasil mendapatkan sesuatu, bukan lain karena usaha itu merupakan sebab yang dimudahkan oleh Allah baginya. Adapun ketika gagal memperoleh sesuatu, iapun memahami bahwa itu adalah ketetapan Allah, sehingga ia ridha menerimanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkan dua sikap di atas; tidak bangga terhadap diri sendiri ketika sukses meraih cita-cita, dan tidak sedih secara berlebihan ketika gagal meraih sukses, dalam firman-Nya,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴿٢٢﴾لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah . Agar kamu tidak bersedih hati terhadap yang luput dari kamu, dan tidak pula menjadi bangga terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23).
Demikianlah, sebenarnya sangat mudah memahami dan mengimani takdir Allah secara benar, yaitu hanya dengan tunduk kepada wahyu, dan tidak mendewakan akal. Akal harus tunduk kepada wahyu, bukan wahyu tunduk kepada akal. Sementara mengimani takdir tidak berarti meniadakan usaha, karena melakukan usaha merupakan perintah, sedangkan antara perintah dan takdir tidak bertentangan sama sekali. Wallahu al-Muwaffiq…

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَآمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ: اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

(Diadaptasi dari tulisan Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin di majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVI/1433H/2012M).


Tuesday, July 5, 2016

Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ))، ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً))، ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً*يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً)). أَمَّا بَعْدُ :

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Ma’asyiral mukminin,
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman mengabarkan tentang keadaan Firaun dan kaumnya:

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَٰذِهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ ۗ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Al-A’raf: 131).
Agama Islam adalah agama yang memotivasi agar pemeluknya menjadi seorang yang optimis. Agama Islam adalah agama kegembiraan dan kebahagiaan. Kebahagiaan tersebut terwujud dalam ketaatan kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala dan berserah diri kepada-Nya. Kepada-Nya lah berserah diri orang-orang yang bertawakkal. Dan kepada-Nya orang-orang bertakwa mengusahakan amal ibadah mereka.
Sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, manusia hidup dalam kejahiliyahan yang fanatik dan kesesatan yang buta. Suara burung dapat menghalangi mereka dari sesuatu, karena anggapan sial. Mereka hidup dalam khurofat dan hawa nafsu yang mungkar. Dan di antara kebiasaan jahiliyah tersebut yang dilarang oleh Islam adalah sifat pesimis karena anggapan sial.
Pesimis dan merasal sial adalah lawan dari anugerah dan keberkahan. Anggapan sial adalah sebuah sikap yang menunjukkan prasangka buruk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan optimis artinya berprasangka baik kepada-Nya. Dan seorang mukmin adalah orang yang berprasangka baik kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan.
Syariat Islam datang dengan melarang tathayyur. Karena hal ini termasuk bentuk pesimis yang disebabkan melihat atau mendengar sesuatu. Dan ini juga merupakan bentuk keyakinan yang lemah dari orang-orang yang berbuat syirik. Mereka tidak bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Tathayyur adalah anggapan sial karena melihat atau mendengar bunyi burung, kijang, bintang, atau selainnya. Apa yang mereka lihat dan dengar menghalangi mereka dari aktivitas yang mereka niatkan. Maka syariat Islam datang menghapuskan hal ini. Islam menekankan bahwa yang demikian sama sekali tidak berdampak dalam mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Yang demikian hanyalah keyakinan-keyakinan yang tidak berdasar sama sekali.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللّهُ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُون

“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131).
Dalam ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa tathayyur adalah amalannya orang-orang musyrikin. Dan perbuatan itu dicela oleh syariat. Dahulu, kaum Firaun apabila mereka ditimpa pacek kelik dan kemarau panjang, mereka sangka bahwa musibah dan bala’ itu karena Musa dan kaumnya yang membawa sial. Sebagaimana dalam firman Allah,

وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُواْ بِمُوسَى وَمَن مَّعَهُ

“Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.” (QS. Al-A’raf: 131).
Maka Allah bantah mereka dengan firman-Nya,

أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللّهُ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُون

“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131).
Yakni musibah yang menimpa mereka merupakan qadha dan qadar yang telah Allah tetapkan disebabkan kekufuran, dosa, dan pengingkaran mereka terhadap risalah yang dibawa Nabi Musa ‘alaihissalam. Setelah itu Allah sifati mayoritas mereka sebagai orang-orang yang bodoh.
Musa ‘alaihissalam adalah utusan Rabb semesta alam. Ia datang dengan membawa kebaikan, keberkahan, dan kemenangan bagi siapa yang beriman dan mengikutinya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ ۚ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ ۖ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ

Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji”. (QS. An-Naml: 47).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan keadaan orang-orang musyrik di selain zaman Nabi Musa. Ketika mereka ditimpa musibah, maka mereka merasa pesimis dan menyangka bahwa sebab musibah tersebut datangnya dari para rasul.

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ

“Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu.” (QS. Yasin: 18).
Allah bantah mereka dengan mengatakan,

قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ

Rasul-rasul itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri”. (QS. Yasin: 19).
Tidaklah orang-orang musyrik itu ditimpa musibah yang telah Allah tetapkan dengan qadha dan qadar-Nya, kecuali dikarenakan dosa-dosa mereka. Para rasul datang dengan kebaikan dan keberkahan bagi orang-orang yang mengikuti mereka.
Dalam sebuah hadits yang muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada tiyaroh (mengkaitkan nasib buruk dengan apa yang dilihat atau didengar), tidak ada burung yang menunjukkan akan ada anggota keluarga yang mati, dan tidak ada kesialan di bulan shafar” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat Imam Muslim ada tambahan lafadz,

لاَ نَوْءَ وَلاَ غُوْلَ

“Tidak benar juga meyakini bintang, dan tidak pula mempercayai hantu.”
Kehidupan pada masa jahiliyah, dipenuhi dengan hal-hal yang berbau klenik dan khurofat. Ketika Islam datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammembuang jauh-jauh keyakinan demikian dengan sabdanya “Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya)”.
Penyakit itu tidak menular dengan sendirinya, akan tetapi ia menular atas takdir dan ketetapan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hadits yang menjelaskan bahwa penyakit tidak menular dengan sendirinya ini, tidak bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain. Semisal sabda beliau,

وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ

“Menjauhlah (menghindarlah) dari penyakit kusta sebagaimana engkau menjauh dari singa.”(HR. al-Bukhari dan yang lainnya).
Hadits ini menjelaskan agar seseorang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara berusaha menjauhi musibah tersebut. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195).
Dan di antara bentuk khurofat lainnya yang terjadi di masa jahiliyah adalah pesimis dengan sesuatu yang mereka dengar di suatu tempat. Jika ada bunyi burung tertentu di sebuah rumah, maka penghuni rumah itu merasa akan ditimpa kesialan dan musibah. Mereka berkeyakinan salah seorang di antara mereka penghuni rumah akan meninggal. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenepis keyakinan ini dengan mengatakan,

وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ

“Tidak ada tiyarah (mengkaitkan nasib buruk dengan apa yang dilihat atau didengar) dan tidak ada burung yang menunjukkan akan ada anggota keluarga yang mati.”
Burung adalah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak memiliki campur tangan dalam urusan ketetapan takdir-Nya. Suatu ketika ada burung tertentu yang lewat lalu berkicau, maka seseorang berkata akan datang kebaikan dan kebaikan. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Tidak ada keberuntungan (karena burung itu) dan tidak juga keburukan.” Beliau mengingkari keyakinan demikian.
Di antara bentuk pesimis dan anggapan sial yang lainnya adalah anggapan sial dengan angka. Biasanya angka 13 dijadikan angka sial. Inilah keyakinan orang-orang Nasrani. Ada lagi anggapan sial pada hari tertentu. Kemudian juga anggapan sial atau tidak beruntung ketika orang menyatukan jari-jari tangan kanan dan jari-jari tangan kiri (tasybiq). Atau benda tertentu pecah. Atau tanggal pernikahan. Dll.
Bentuk anggapan sial lainnya adalah anggapan sial kepada seseorang. Seperti perkataan: Fulan wajahnya membawa sial. Atau juga anggapan sial pada warna. Seperti warna hitam karena dianggap warna kesedihan dan duka cita.
Demikian juga orang-orang yang membuka Alquran saat mereka akan berdagang atau bersafar. Mereka berkeyakinan akan mendapatkan keberuntungan. Apabila saat membuka Alquran, mereka langsung menemukan ayat-ayat yang bercerita tentang surga, maka mereka yakin akan dapat keberuntungan. Mereka pun dengan percaya diri dan optimis melakukan aktivitasnya. Namun apabila berjumpa dengan ayat-ayat tentang neraka, mereka pun tidak berani melanjutkan atau mengurungkan safarnya.
Ini sama persis dengan amalan orang-orang jahiliyah yang mengundi nasib dengan anak panah.
Di antara bentuk khurofat orang-orang jahiliyah juga adalah anggapan sial pada bulan-bulan tertentu seperti bulan Shafar. Orang-orang jahiliyah juga tidak mengadakan resepsi pernikahan di bulan-bulan tertentu. Maka Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam memberantas keyakinan demikian dengan sabda beliau yang telah khatib sebutkan

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada tiyaroh (mengkaitkan nasib buruk dengan apa yang dilihat atau didengar), tidak ada burung yang menunjukkan akan ada anggota keluarga yang mati, dan tidak ada kesialan di bulan shofar” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bulan Shafar itu sama dengan bulan-bulan lainnya. Tidak memiliki pengaruh terhadap ketetapan takdir Allah.
Orang-orang jahiliyah juga memiliki keyakinan yang menyimpang tentang bintang-bintang. Mereka berkeyakinan letak-letak bintang atau bintang tertentu menentukan datangnya hujan. Mereka juga berkeyakinan kalau ada hantu yang bisa mencelakakan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus keyakinan demikian dengan sabdanya,

لاَ نَوْءَ وَلاَ غُوْلَ

“Tidak benar juga meyakini bintang, dan tidak pula mempercayai hantu.”
Bintang tidak berpengaruh sama sekali pada turunnya hujan. Bintang dan juga setan atau hantu tidak akan mampu menyesatkan dan mencelakakan seseorang kecuali atas izin Allah. Dan seorang muslim disyariatkan untuk berlindung dari kejelekannya.

للَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي مَقَامِنَا هَذَا أَنْ تَوْفِقَنَا لِلْقِيَامِ بِمَا أَوْجَبْتَ عَلَيْنَا وَأَنْ نَكُوْنَ مِنْ عِبَادِكَ المُخْبِتِيْنَ الصَّادِقِيْنَ البَارِيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ إِنَّكَ جَوَادٌ كَرِيْمٌ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ .

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ وَأَشْهَدُ اَلَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا النَجَاةَ يَوْمَ نَلْقَاهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ:

Ibadallah,
Wajib bagi kaum muslimin menjauhkan dan menjaga diri dari keyakinan-keyakinan batil seperti yang telah khotib sebutkan. Kaum muslimin wajib bertawakal hanya kepada Allah dan bersandar kepada-Nya. Di tangan Allah lah segala ketentuan yang terjadi. Tidak ada yang bisa menangkalnya.
Ma’asyiral mukminin,
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas radhiallahu ‘anhu, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَيُعْجِبُنِى الْفَأْلُ » . قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ « كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ

“Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah) dan tidak dibenarkan beranggapan sial. Sedangkan al-fa’lu membuatkan takjub.” Para sahabat bertanya, “Apa itu al-fa’lu?” beliau bersabda,“Kalimat yang baik thayyib.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Anggapan sial hanya memandang jelek dan pesimis. Misalnya seseorang berkeinginan untuk menikah atau bersafar, kemudian dia melihat atau mendengar sesuatu yang membuatnya khawatir atau benci, ia pun membatalkan keinginannya tadi. Hukum yang demikian adalah syirik. Karena yang demikian sama saja berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal seperti ini hanyalah was-was dan khayalan. Dimana hati bersandar kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla.
Adapun al-fa’lu yakni kalimat-kalimat yang baik, terjadi karena adanya sifat optimis dan merasa lapang. Ia merasa mudah dan kuat rasa harapnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti seorang yang menderita sakit, kemudian ia mendengar seseorang berkata kepadanya “wahai orang yang sehat”, maka di hatinya akan tertanam energi positif. Ia yakin akan sembuh dari sakitnya.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam takjub dengan orang yang memiliki sifat al-fa’lu. Karena ia memasukkan kebahagiaan kepada hati seseorang tanpa bersandar kepada dirinya. Yang demikian dianjurkan dalam agama kita karena menanamkan prasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’alaberfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرا

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 5).

وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الُهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثاَتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ فِي الدِّيْنِ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ اِجْتَمِعُوْا وَلَا تَتَفَرَّقُوْا اِجْتَمِعُوْا عَلَى دِيْنِ اللهِ اِجْتَمِعُوْا عَلَى مَا فِيْهِ الصَّلَاحُ فِي دِيْنِكُمْ وَدُنْيَاكُمْ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ، شَذَّ فِي النَّارِ

وَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى النَّبِي مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ مَرَّةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا اَللَّهُمَّ صَلِّي وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا مَحَبَّتَهُ وَاتِّبَاعَهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا اَللَّهُمَّ تَوَفَّنَا عَلَى مِلَّتَهُ اَللَّهُمَّ احْشُرْنَا فِي زَمْرَتِهِ اَللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ حَوْضِهِ اَللَّهُمَّ أَدْخِلْنَا فِي شَفَاعَتِهِ اَللَّهُمَّ اجْمَعْنَا بِهِ فِي جَنَّاتٍ النَّعِيْمٍ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ ارْضَى عَنْ خُلَفَائِهِ الرَاشِدِيْنَ وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ عَنِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غَلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ الرَؤُوْفُ الرَحِيْمُ أَمَّا بَعْدُ.

فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا.يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

(إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Sulthan bin Abdurrah al-Id dengan judul (at-Tafa-ul wa Tasya-um)


Translate

Popular Posts