Tuesday, July 12, 2016

Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ ومُبلِّغُ النَّاسِ شَرْعَهُ، مَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الْأُمَّةَ عَلَيْهِ وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ:

اَتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ، وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ أُمُوْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ.

وَتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكٌ لِمَعْصِيَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ خِيْفَةَ عَذَابِ اللهِ .

Kaum muslimin rahimakumullah,
Manusia hidup di dunia ini telah ditentukan ajalnya, telah dijatah lama kehidupannya. Dengan berjalannya hari-hari, berlalunya bulan demi bulan, dan bergantinya tahun-tahun, maka sesungguhnya semua itu mendekatkan manusia kepada ajalnya. Ironisnya, mayoritas manusia tidak memperhatikan itu, bahkan kebanyakan sibuk dan menyibukkan diri dengan berbagai urusan dunia yang fana dan melalaikan akhirat yang kekal selamanya.
Allah Azza wa Jalla berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la: 16-17).
Jika manusia mau mengamati orang-orang yang hidup di sekitarnya, banyak orang yang dikenalnya telah mendahuluinya menuju alam baka. Di antara kita sudah ditinggal mati oleh kakek atau neneknya, ayah atau ibunya, kakak atau adiknya, suami atau istrinya, bahkan anak atau cucunya. Demikian juga tetangganya, kawan sekolahnya, teman bermainnya, atau kawan kerjanya. Sebagian sudah mendahului pergi.
Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu telah memberikan nasihat sangat berharga, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya:

ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ

“Dunia telah berjalan menjauhi, sedangkan akhirat telah berjalan mendekati. Dunia dan akhirat memiliki orang-orang (yang memburunya), maka hendaklah kamu menjadi orang-orang (yang memburu) akhirat, janganlah kamu menjadi orang-orang (yang memburu) dunia. Karena sesungguhnya hari ini (di dunia) ada amal, dan belum ada hisab (perhitungan amal), sedangkan besok (akhirat) ada hisah dan tidak ada amal.” (HR Bukhari).
Sahabat yang mulia ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu , telah berkata benar, telah memberikan nasihat kepada umat, maka siapakah orang beruntung yang mau mengambil nasihatnya ?
Ibadallah,
Banyak faktor yang menjadi penyebab kematian menghadang manusia. Salah satu di antaranya pasti menimpanya, tidak ada pilihan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan hakikat ini dalam banyak hadits, diantaranya:

عَنْ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُثِّلَ ابْنُ آدَمَ وَإِلَى جَنْبِهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ مَنِيَّةً إِنْ أَخْطَأَتْهُ الْمَنَايَا وَقَعَ فِي الْهَرَمِ

Dari Mutharrif bin Abdillah bin asy-Syikhkhir, dari bapaknya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah diciptakan di dekat anak Adam sembilan puluh sembilan musibah (sebab kematian). Jika dia tidak terkena semua musibah itu, dia pasti mengalami ketuaan. (HR Tirmidzi).
Kandungan dari “sembilan puluh sembilan” dalam hadits ini memiliki maksud yang sangat banyak, bukan membatasi dengan jumlah sembilan puluh sembilan saja. Sedangkan “maniyyah”, artinya ialah musibah atau kematian,wallahu a’lam.
Ada dua makna yang disebutkan Ulama tentang hadits ini.
Pertama: Sangat banyak faktor-faktor yang menjadi penyebab kematian manusia. Seandainya manusia itu berulang kali selamat dari sebab-sebab kematian yang berupa penyakit, kelaparan, tenggelam, terbakar, dan lainnya, niscaya dia pasti mengalami ketuaan sampai meninggal dunia.
Kedua: Asal penciptaan manusia tidak terlepas dari musibah, bencana dan penyakit. Sebagaimana dikatakan oleh sebuah ungkapan:

اَلْبَرَايَا أَهْدَافُ الْبَلَايَا

“Semua makhluk adalah sasaran musibah.”
Atau seperti dikatakan Ibnu Atha rahimahullah:

مَا دُمْتَ فِيْ هَذِهِ الدَّارِ لَا تَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ الْأَكْدَارِ

“Selama engkau berada di dunia ini, jangan heran terjadinya kesusahan-kesusahan.”
Jika seseorang tidak tertimpa semua muisbah itu, dan ini sangat jarang terjadi, pasti akan ditimpa penyakit paling ganas yang tidak ada obatnya, yaitu ketuaan. Intinya, dunia adalah penjara seorang mukmin dan surga orang kafir. Sehingga sepantasnya seorang Mukmin bersabar menghadapi keputusan Allah, ridha terhadap yang ditakdirkan dan diputuskan Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan, semua penyakit ada obatnya kecuali ketuaan yang membawa kepada kematian.
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُنَزِّلْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ مَعَهُ شِفَاءً إِلَّا الْمَوْتَ وَالْهَرَمَ
Dari Usamah bin Syarik, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kamu berobat, wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan obat bersamanya, kecuali kematian dan ketuaan”. (HR Ahmad).
Di dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ أَبِيِ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً أَوْ لَمْ يَخْلُقْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ أَوْ خَلَقَ لَهُ دَوَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ إِلَّا السَّامَ قَالُوْا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَ مَا السَّامُ؟ قَالَ : الْمَوْتُ

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit atau tidak menciptakan penyakit kecuali menurunkan atau menciptakan obat untuknya. Orang yang telah mengetahuinya dia mengetahui, orang yang tidak mengetahuinya dia tidak mengetahuinya, kecuali as-saam”. Para sahabat bertanya, “Apakah as-saam itu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kematian”. (HR al-Hakim).
Ibadallah,
Manusia memiliki beraneka angan-angan sesuai dengan keyakinannya, atau orang-orang sekitarnya yang mempengaruhinya, atau lainnya. Banyak orang yang memiliki angan-angan tentang dunia dan kemewahannya; Pekerjaan mudah, rumah dan mobil mewah, dan perkara wah lainnya. Namun kebanyakan tidak menyadari bahwa sesungguhnya kematian lebih dekat dari angan-angan.
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak mengingatkan kepada umatnya tentang masalah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan masalah tersebut dengan membuat gambar yang dituliskan, sehingga hal itu lebih menjadikan gamblang dan menyentuh hati orang-orang yang memperhatikan. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hadits shahih di bawah ini:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ z قَالَ خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا وَخَطَّ خَطًّا فِي الْوَسَطِ خَارِجًا مِنْهُ وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الْوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الْوَسَطِ وَقَالَ هَذَا الْإِنْسَانُ وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطٌ بِهِ أَوْ قَدْ أَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ وَهَذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ الْأَعْرَاضُ فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا

Dari Abdullah, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambar persegi empat dan membuat garis yang keluar darinya di tengahnya. Beliau juga membuat garis-garis kecil ke arah garis yang berada di tengah tersebut dari arah sampingnya. Beliau bersabda, ‘Ini adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajalnya, mengelilinginya atau telah mengelilinginya. Sedangkan (garis) yang keluar ini adalah angan-angannya. Dan garis-garis kecil ini adalah musibah-musibah. Jika ia tidak terkena ini (suatu jenis musibah, Pen), dia pasti terkena ini (suatu jenis musibah, Pen). Jika dia tidak terkena ini, dia pasti terkena ini’.” (HR. al- Bukhari).
Ya, manusia tidak akan selamat dari kematian, dan kematiannya itu lebih dekat dari angan-angannya.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطُوطًا فَقَالَ هَذَا الْأَمَلُ وَهَذَا أَجَلُهُ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ جَاءَهُ الْخَطُّ الْأَقْرَبُ

Dari Anas, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris beberapa garis, lalu bersabda, ‘Ini angan-angan (manusia), dan ini ajalnya. Ketika ia dalam keadaan demikian (mengejar angan-angannya), tiba-tiba datang kepadanya garis yang terdekat (ajalnya)’.” (HR. al-Bukhari).
Dalam riwayat lain disebutkan:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَامِلَهُ فَنَكَتَهُنَّ فِي الْأَرْضِ فَقَالَ هَذَا ابْنُ آدَمَ وَقَالَ بِيَدِهِ خَلْفَ ذَلِكَ وَقَالَ هَذَا أَجَلُهُ قَالَ وَأَوْمَأَ بَيْنَ يَدَيْهِ قَالَ وَثَمَّ أَمَلُهُ ثَلَاثَ مِرَارٍ

Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan jari-jarinya, lalu menurunkannya ke tanah, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ‘Ini anak Adam,’ lalu beliau menggerakkan tangannya di belakangnya itu sambil mengatakan, ‘Ini ajalnya,’ kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammengisyaratkan ke arah depan sambil bersabda, ‘Dan di sana angan-angannya,’ tiga kali”. (HR Ahmad).
Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menerangkan kedekatan ajal pada manusia itu dengan isyarat-isyarat dengan anggota badan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عن أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا ابْنُ آدَمَ وَهَذَا أَجَلُهُ وَوَضَعَ يَدَهُ عِنْدَ قَفَاهُ ثُمَّ بَسَطَهَا فَقَالَ وَثَمَّ أَمَلُهُ وَثَمَّ أَمَلُهُ وَثَمَّ أَمَلُهُ

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,’Ini adalah anak Adam, dan ini adalah ajalnya,” beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya pada tengkuknya, lalu beliau menyebarkannya lalu bersabda, “Dan disana adalah angan-angannya, dan disana adalah angan-angannya’.” (HR Tirmidzi).
Demikianlah antara kita dan kematina –kaum muslimin rahimakumullah-. Di antara kita ada yang malas mengingatnya, walaupun dia tidak memungkiri itu akan menimpa dirinya. Di antara kita ada yang tidak suka mendengarkannya, padahal bisa jadi hal itu sudah sangat dekat dengannya.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى هُدَاكَ وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ، وَوَفِّقْنَا لِكُلِّ خَيْرٍ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.

أَقُوْلْ هَذَا الْقَوْلَ وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Ibadallah,
Semoga sedikit keterangan ini mengingatkan kita tentang pentingnya persiapan menghadapi kematian, masalah besar yang dihadapi setiap insan. Demikianlah yang paling penting sebagaimana diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ n فِي جِنَازَةٍ فَجَلَسَ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ فَبَكَى حَتَّى بَلَّ الثَّرَى ثُمَّ قَالَ يَا إِخْوَانِي لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا

Dari al-Bara’, di berkata: “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallampada suatu jenazah, lalu beliau duduk pada tepi kubur, kemudian beliau menangis sehingga tanah menjadi basah, lalu beliau bersabda,’Wahai saudara-saudaraku! Untuk semisal ini, maka persiapkanlah!’.” (HR Ibnu Majah).
Terakhir kami katakan: “Wahai saudara-saudaraku! Persiapkanlah dirimu menghadapi kematian!” Wallahu al-Musta’an.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ وَأَعِنْهُ عَلَى طَاعَتِكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَ الإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ وَفِّق جَمِيْعَ وُلَاةِ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِكُلِّ قَوْلٍ سَدِيْدٍ وَعَمَلٍ رَشِيْدٍ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَوْقَاتِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا.

اَللَّهُمَّ وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنثوْبَنَا وَاجْعَلْ عَمَلَنَا فِي رِضَاكَ، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتَ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .

عِبَادَ اللهِ: اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

(Disalin dari tulisan Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari al-Atsari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XVI/1433H/2012M.


Saturday, July 9, 2016

Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ:

عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.

Kaum muslimin rahimakumullah,
Bagi sebagian orang, memahami masalah takdir tidaklah mudah. Buktinya, dalam hal ini banyak di antara kaum muslimin yang terjebak pada salah satu di antara dua kutub kesesatan yang saling berlawanan.
Pertama: Kesesatan Jabariyah. Yaitu golongan yang berlebihan dalam masalah takdir hingga menganggap bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan tidak memiliki pilihan untuk berbuat. Semua serba dipaksa oleh Allah, laksana gerakan getar tubuh yang tidak dapat dikendalikan oleh pemiliknya.
Kedua: Kesesatan Qadariyah. Yaitu golongan yang berlebihan menolak takdir hingga semua kegiatan manusia tidak dicampuri oleh Allah Azza wa Jalla dan kehendak-Nya.
Mengapa demikian? Sebab dalam memahami takdir, sebagian orang lebih banyak berpijak pada asas logika. Padahal masalah takdir termasuk perkara ghaib yang tidak akan dapat dijangkau detail-detailnya hanya berdasarkan logika. Bukan wilayah logika untuk memahami takdir dengan tuntas. Ia harus dipahami berdasarkan wahyu dan keimanan. Ketika takdir sudah terjadi pun, kadang orang tidak mampu menangkap hikmah yang terkandung di baliknya.
Yang pasti, takdir Allah Azza wa Jalla harus diimani sebagaimana orang mengimani ketetapan syariat-Nya. Keduanya merupakan ketetapan AllahSubhanahu wa Ta’ala. Ketika orang menjalankan ketetapan-ketetapan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengimaninya, misalnya syariat shalat, orang juga harus mengimani ketetapan takdir Allah Azza wa Jalla, misalnya takdir hidup, mati, laki-laki, perempuan, sakit, miskin, dan takdir-takdir lainnya. Karena semuanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pencipta alam semesta dan penetap syariat bagi sekalian hamba-Nya.
Iman kepada takdir merupakan salah satu rukun dan asas keimanan di antara rukun Iman yang enam. Barangsiapa yang mengingkari takdir, maka ia bukanlah seorang mukmin yang sesungguhnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Malaikat Jibril Alaihissallam tentang Iman, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. رواه مسلم

“Iman ialah jika engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhirat, dan jika engkau beriman kepada takdir, baiknya dan buruknya.” (HR. Muslim).
Jadi orang yang beriman adalah orang yang beriman kepada takdir, dan beriman kepada rukun-rukun iman lainnya. Sebab, takdir merupakan kekuasaan, kewenangan dan kehendak Allah Azza wa Jalla. Iman kepada takdir, tidak bisa dipisahkan dengan Iman kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada rukun-rukun iman yang lain. Semua saling terkait erat. Maka orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada Malaikat-malaikat-Nya, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari akhirat, harus pula beriman kepada takdir.
Sebagaimana halnya nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla serta masalah ghaib lainnya, takdir juga merupakan masalah yang diluar jangkauan akal manusia. Maka kebenaran dalam memahami takdir harus sesuai dengan petunjuk wahyu yang datangnya dari Allah Azza wa Jalla, Dzat yang Maha menentukan takdir bagi segala sesuatu. Bukan dengan petunjuk logika atau perasaan orang yang serba terbatas.
Sama halnya ketika orang mengimani Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama dan sifat-Nya pun, harus berdasarkan wahyu. Demikian pula ketika orang menjalankan dan mengimani syariat, juga harus sesuai dengan petunjuk wahyu. Dan di antara wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab Beliau adalah utusan-Nya yang dipercaya untuk menerima dan menyampaikan wahyu-Nya, baik berupa Alquran maupun Sunnah.
Dalam hal ini Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنِّي أُوتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ. رواه أحمد وأبوداود

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi wahyu Alquran, dan yang semisal Alquran (Sunnah) didatangkan bersamanya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Hadits ini menunjukkan bahwa ada wahyu lain yang datang bersama Alquran, yaitu Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Supaya seorang Muslim bisa benar dalam memahami dan mengimani takdir, maka ia harus memahami dan mengimani empat peringkat (perkara) takdir secara benar, seperti dinyatakan oleh para Ulama.
Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Syifa’ul ‘Alil, menyatakan, “Bab kesepuluh tentang peringkat-peringkat Qadha’ dan Qadar. Barangsiapa tidak mengimani peringkat-peringkat ini berarti ia belum beriman kepada Qadha’ dan Qadar”.
Di bawahnya beliau menjelaskan peringkat-peringkat tersebut, beliau katakan: peringkat takdir ada empat:
Pertama: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui segala sesuatu sebelum kejadiannya.
Kedua: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menuliskan segala sesuatu itu (di Lauh Mahfuzh) sebelum kejadiannya.
Ketiga: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha menghendaki kejadian segala sesuatu itu.
Keempat: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menciptakan dan mengadakan segala sesuatu yang telah diketahuinya itu.
Itulah empat peringkat atau empat perkara yang hakikatnya merupakan takdir itu sendiri. Artinya, ketetapan takdir Allah pada hakikatnya tidak lepas dari ilmu pengetahuan Allah Azza wa Jalla terhadap segala sesuatu semenjak sebelum segala sesuatu itu ada, kemudian apa yang diketahuinya ini dituliskan di Lauh Mahfuzh, selanjutnya apa yang diketahui dan dituliskan itu pasti dikehendaki terjadinya oleh Allah Azza wa Jalla . Terakhir, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menciptakan dan mengadakan apa yang telah diketahui dan dikehendaki-Nya itu.
Takdir baik ataupun buruk, iman atau kufur, semuanya merupakan takdir Allah. Sebab Allah Azza wa Jalla sudah mengetahui sebelumnya bahwa itu akan terjadi dan sudah dituliskannya di Lauh Mahfuzh. Dengan demikian, maka pasti Allah menghendaki terjadinya, dan jika Allah menghendaki, pasti Allah akan mengadakannya.
Tidak mungkin Allah menghendaki suatu kejadian sedangkan sebelumnya Allah tidak tahu. Atau mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi, tetapi kemudian Allah menghendaki lain. Misalnya, seseorang yang sudah diketahui Allah bahwa ia akan mati kafir, maka tidak mungkin Allah Azza wa Jalla menghendaki agar ia tidak mati dalam keadaaan kafir. Sebab antara ilmu dan kehendak-Nya tidak mungkin saling berlawanan; Tidak mungkin apa yang diketahui-Nya bertentangan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Maha suci Allah dari hal-hal yang demikian. Tidak mungkin dalam wilayah kekuasaan-Nya terjadi sesuatu yang diluar kehendak-Nya.
Tetapi perlu dipahami bahwa sesuatu yang dikehendaki Allah Azza wa Jallatidak selalu identik dengan sesuatu yang di sukai dan dicintai-Nya. Tidak setiap yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki terjadi, pasti Allah Azza wa Jallasukai. Misalnya, homoseksual terjadi dengan kehendak Allah Azza wa Jalla, tetapi Allah tidak menyukai kema’siatan itu.
Fakta yang semacam ini banyak sekali contohnya. Itulah yang disebut denganiradah kauniyah, kehendak Allah yang bersifat takdir. Salah satu contohnya adalah pencurian. Pencurian tidak akan terjadi tanpa kehendak kauniyah AllahAzza wa Jalla. Buktinya, banyak pencurian yang gagal meskipun sudah dengan perhitungan yang super teliti. Sebab, Allah tidak menghendaki pencurian itu terjadi.
Maka terjadinya pencurian adalah karena kehendak Allah, tetapi apakah lantas berarti pencurian itu diridhai oleh Allah Azza wa Jalla? Tentu tidak. Jadi tidak setiap yang Allah Azza wa Jalla kehendaki terjadi, pasti Allah sukai.
Empat peringkat itu sangat banyak dalilnya, baik dari Alquran maupun Sunnah yang shahih. Dan bahkan merupakan kesepakatan seluruh para Nabi Allah dan kitab-kitab-Nya.
Oleh sebab itu, berkaitan dengan empat peringkat takdir tersebut, Imam Ibnu al-Qayyim selanjutnya menjelaskan, ringkasnya antara lain sebagai berikut:
Adapun yang pertama, yaitu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah terlebih dahulu mengetahui segala sesuatu sebelum segala sesuatu itu terjadi. Ini sudah menjadi kesepakatan seluruh Rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala, mulai dari Rasul Allah yang pertama hingga Rasul Allah penutup. Demikian pula telah menjadi kesepakatan seluruh Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta umat Islam sesudahnya yang mengikuti jejak mereka. Yang menyelisihi kesepakatan mereka adalah golongan Majusinya umat Islam ini. Dan penulisan segala sesuatu di Lauh Mahfuzh sebelum kejadiannya, membuktikan bahwa Allah sudah mengetahui segala sesuatu itu sebelum kejadiannya.
Beliau juga mengatakan hal yang sama tentang peringkat kedua, ketiga, dan keempat, tentang penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, tentang kehendak Allah bagi terjadinya segala sesuatu dan tentang penciptaan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Bahwa hal itu semua juga sudah merupakan kesepakatan seluruh rasul Allah dan kesepakatan semua kitab-Nya yang diturunkan kepada para rasulNya.
Di antara dalil-dalilnya yang sangat banyak antara lain firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan (yang mengandung berkah), dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa hasil yang diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman:34).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَيَعْلَمُهَا إِلاَّ اللهُ: لاَيَعْلَمُ مَا فِى غَدٍ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَاتَغِيْضُ الْأَرْحَامُ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ اللهُ. رواه البخاري

“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang berkurang dari rahim kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hujan datang kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia mati, dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah.” (HR. Bukhari dan lainnya).
Dalam riwayat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ، ثُمَّ قَرَأَ : (إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ …..). رواه البخاري

“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima. Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammembaca firman Allah (Luqman/31: 34): “Sesungghnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat,…”. (HR. Bukhari).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am: 59).
Juga firman-Nya,

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Bukankah engkau mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada di langit maupun bumi. Sesungguhnya yang demikian itu sudah tertulis di dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya penulisan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70).
Dua ayat di atas merupakan sebagian dalil tentang penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, sekaligus juga dalil tentang ilmu Allah terhadap segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, dan tidak ada sesuatupun yang tidak tertuliskan di Lauh Mahfuzh. Penulisan itu sangatlah mudah bagi Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda antara lain,

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ. قَالَ : وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ. رواه مسلم

“Allah telah menuliskan ketetapan takdir bagi segenap makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi. Nabi bersabda: Dan (waktu itu) Arsy-Nya sudah ada di atas air.” (HR. Muslim).
Demikianlah kekuasaan Allah dalam menetapkan takdir bagi makhluk-Nya. Dia berkuasa atas segala sesuatu. Ilmu-Nya meliputi segala hal. Dialah Rab kita, falaa haula walaa quwwata illaa billaah..

نَسْأَلُ اللهَ الكَرِيْمَ أَنْ يُبَصِّرَنَا جَمِيْعاً بِحُدُوْدِ دِيْنِهِ، وَأَنْ يُفَقِّهَنَا فِي شَرْعِهِ وَتَنْزِيْلِهِ، وَأَنْ يَّمُنَّ عَلَيْنَا بِالرِّزْقِ الطَيِّبِ اَلْحَلَالِ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَمْوَالِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنِانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى.

Kaum muslimin rahimakumullah
Ada banyak hikmah yang terkandung dalam beriman kepada takdir, diantaranya bahwa, beriman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang enam. Di samping itu juga merupakan sempurnanya keyakinan seseorang terhadap tauhid Rububiyah Allah Azza wa Jalla . Kemudian, dengan beriman kepada takdir, akan terwujud tawakkal yang benar kepada Allah tanpa mengabaikan usaha-usaha. Pun orang akan merasa tenang dalam kehidupannya karena memahami bahwa apa yang menimpanya pasti memang harus menimpanya, dan apa yang tidak akan menimpanya pasti tidak akan menimpanya.
Dengan beriman kepada takdir, orang juga tidak akan membanggakan diri sendiri ketika berhasil memperoleh sesuatu yang diinginkannya, dan tidak akan merasa sangat sedih ketika gagal memperolehnya. Sebab ia memahami bahwa kesuksesannya memperoleh sesuatu tidak lain kecuali karena ketetapan takdir dari Allah Azza wa Jalla . Sedangkan usaha yang ia lakukan hingga berhasil mendapatkan sesuatu, bukan lain karena usaha itu merupakan sebab yang dimudahkan oleh Allah baginya. Adapun ketika gagal memperoleh sesuatu, iapun memahami bahwa itu adalah ketetapan Allah, sehingga ia ridha menerimanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkan dua sikap di atas; tidak bangga terhadap diri sendiri ketika sukses meraih cita-cita, dan tidak sedih secara berlebihan ketika gagal meraih sukses, dalam firman-Nya,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴿٢٢﴾لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah . Agar kamu tidak bersedih hati terhadap yang luput dari kamu, dan tidak pula menjadi bangga terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23).
Demikianlah, sebenarnya sangat mudah memahami dan mengimani takdir Allah secara benar, yaitu hanya dengan tunduk kepada wahyu, dan tidak mendewakan akal. Akal harus tunduk kepada wahyu, bukan wahyu tunduk kepada akal. Sementara mengimani takdir tidak berarti meniadakan usaha, karena melakukan usaha merupakan perintah, sedangkan antara perintah dan takdir tidak bertentangan sama sekali. Wallahu al-Muwaffiq…

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَآمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ: اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

(Diadaptasi dari tulisan Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin di majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVI/1433H/2012M).


Wednesday, July 6, 2016

Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ:

عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.

Kaum muslimin rahimakumullah,
Bagi sebagian orang, memahami masalah takdir tidaklah mudah. Buktinya, dalam hal ini banyak di antara kaum muslimin yang terjebak pada salah satu di antara dua kutub kesesatan yang saling berlawanan.
Pertama: Kesesatan Jabariyah. Yaitu golongan yang berlebihan dalam masalah takdir hingga menganggap bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan tidak memiliki pilihan untuk berbuat. Semua serba dipaksa oleh Allah, laksana gerakan getar tubuh yang tidak dapat dikendalikan oleh pemiliknya.
Kedua: Kesesatan Qadariyah. Yaitu golongan yang berlebihan menolak takdir hingga semua kegiatan manusia tidak dicampuri oleh Allah Azza wa Jalla dan kehendak-Nya.
Mengapa demikian? Sebab dalam memahami takdir, sebagian orang lebih banyak berpijak pada asas logika. Padahal masalah takdir termasuk perkara ghaib yang tidak akan dapat dijangkau detail-detailnya hanya berdasarkan logika. Bukan wilayah logika untuk memahami takdir dengan tuntas. Ia harus dipahami berdasarkan wahyu dan keimanan. Ketika takdir sudah terjadi pun, kadang orang tidak mampu menangkap hikmah yang terkandung di baliknya.
Yang pasti, takdir Allah Azza wa Jalla harus diimani sebagaimana orang mengimani ketetapan syariat-Nya. Keduanya merupakan ketetapan AllahSubhanahu wa Ta’ala. Ketika orang menjalankan ketetapan-ketetapan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengimaninya, misalnya syariat shalat, orang juga harus mengimani ketetapan takdir Allah Azza wa Jalla, misalnya takdir hidup, mati, laki-laki, perempuan, sakit, miskin, dan takdir-takdir lainnya. Karena semuanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pencipta alam semesta dan penetap syariat bagi sekalian hamba-Nya.
Iman kepada takdir merupakan salah satu rukun dan asas keimanan di antara rukun Iman yang enam. Barangsiapa yang mengingkari takdir, maka ia bukanlah seorang mukmin yang sesungguhnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Malaikat Jibril Alaihissallam tentang Iman, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. رواه مسلم

“Iman ialah jika engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhirat, dan jika engkau beriman kepada takdir, baiknya dan buruknya.” (HR. Muslim).
Jadi orang yang beriman adalah orang yang beriman kepada takdir, dan beriman kepada rukun-rukun iman lainnya. Sebab, takdir merupakan kekuasaan, kewenangan dan kehendak Allah Azza wa Jalla. Iman kepada takdir, tidak bisa dipisahkan dengan Iman kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada rukun-rukun iman yang lain. Semua saling terkait erat. Maka orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada Malaikat-malaikat-Nya, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari akhirat, harus pula beriman kepada takdir.
Sebagaimana halnya nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla serta masalah ghaib lainnya, takdir juga merupakan masalah yang diluar jangkauan akal manusia. Maka kebenaran dalam memahami takdir harus sesuai dengan petunjuk wahyu yang datangnya dari Allah Azza wa Jalla, Dzat yang Maha menentukan takdir bagi segala sesuatu. Bukan dengan petunjuk logika atau perasaan orang yang serba terbatas.
Sama halnya ketika orang mengimani Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama dan sifat-Nya pun, harus berdasarkan wahyu. Demikian pula ketika orang menjalankan dan mengimani syariat, juga harus sesuai dengan petunjuk wahyu. Dan di antara wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab Beliau adalah utusan-Nya yang dipercaya untuk menerima dan menyampaikan wahyu-Nya, baik berupa Alquran maupun Sunnah.
Dalam hal ini Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنِّي أُوتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ. رواه أحمد وأبوداود

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi wahyu Alquran, dan yang semisal Alquran (Sunnah) didatangkan bersamanya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Hadits ini menunjukkan bahwa ada wahyu lain yang datang bersama Alquran, yaitu Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Supaya seorang Muslim bisa benar dalam memahami dan mengimani takdir, maka ia harus memahami dan mengimani empat peringkat (perkara) takdir secara benar, seperti dinyatakan oleh para Ulama.
Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Syifa’ul ‘Alil, menyatakan, “Bab kesepuluh tentang peringkat-peringkat Qadha’ dan Qadar. Barangsiapa tidak mengimani peringkat-peringkat ini berarti ia belum beriman kepada Qadha’ dan Qadar”.
Di bawahnya beliau menjelaskan peringkat-peringkat tersebut, beliau katakan: peringkat takdir ada empat:
Pertama: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui segala sesuatu sebelum kejadiannya.
Kedua: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menuliskan segala sesuatu itu (di Lauh Mahfuzh) sebelum kejadiannya.
Ketiga: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha menghendaki kejadian segala sesuatu itu.
Keempat: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menciptakan dan mengadakan segala sesuatu yang telah diketahuinya itu.
Itulah empat peringkat atau empat perkara yang hakikatnya merupakan takdir itu sendiri. Artinya, ketetapan takdir Allah pada hakikatnya tidak lepas dari ilmu pengetahuan Allah Azza wa Jalla terhadap segala sesuatu semenjak sebelum segala sesuatu itu ada, kemudian apa yang diketahuinya ini dituliskan di Lauh Mahfuzh, selanjutnya apa yang diketahui dan dituliskan itu pasti dikehendaki terjadinya oleh Allah Azza wa Jalla . Terakhir, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menciptakan dan mengadakan apa yang telah diketahui dan dikehendaki-Nya itu.
Takdir baik ataupun buruk, iman atau kufur, semuanya merupakan takdir Allah. Sebab Allah Azza wa Jalla sudah mengetahui sebelumnya bahwa itu akan terjadi dan sudah dituliskannya di Lauh Mahfuzh. Dengan demikian, maka pasti Allah menghendaki terjadinya, dan jika Allah menghendaki, pasti Allah akan mengadakannya.
Tidak mungkin Allah menghendaki suatu kejadian sedangkan sebelumnya Allah tidak tahu. Atau mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi, tetapi kemudian Allah menghendaki lain. Misalnya, seseorang yang sudah diketahui Allah bahwa ia akan mati kafir, maka tidak mungkin Allah Azza wa Jalla menghendaki agar ia tidak mati dalam keadaaan kafir. Sebab antara ilmu dan kehendak-Nya tidak mungkin saling berlawanan; Tidak mungkin apa yang diketahui-Nya bertentangan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Maha suci Allah dari hal-hal yang demikian. Tidak mungkin dalam wilayah kekuasaan-Nya terjadi sesuatu yang diluar kehendak-Nya.
Tetapi perlu dipahami bahwa sesuatu yang dikehendaki Allah Azza wa Jallatidak selalu identik dengan sesuatu yang di sukai dan dicintai-Nya. Tidak setiap yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki terjadi, pasti Allah Azza wa Jallasukai. Misalnya, homoseksual terjadi dengan kehendak Allah Azza wa Jalla, tetapi Allah tidak menyukai kema’siatan itu.
Fakta yang semacam ini banyak sekali contohnya. Itulah yang disebut denganiradah kauniyah, kehendak Allah yang bersifat takdir. Salah satu contohnya adalah pencurian. Pencurian tidak akan terjadi tanpa kehendak kauniyah AllahAzza wa Jalla. Buktinya, banyak pencurian yang gagal meskipun sudah dengan perhitungan yang super teliti. Sebab, Allah tidak menghendaki pencurian itu terjadi.
Maka terjadinya pencurian adalah karena kehendak Allah, tetapi apakah lantas berarti pencurian itu diridhai oleh Allah Azza wa Jalla? Tentu tidak. Jadi tidak setiap yang Allah Azza wa Jalla kehendaki terjadi, pasti Allah sukai.
Empat peringkat itu sangat banyak dalilnya, baik dari Alquran maupun Sunnah yang shahih. Dan bahkan merupakan kesepakatan seluruh para Nabi Allah dan kitab-kitab-Nya.
Oleh sebab itu, berkaitan dengan empat peringkat takdir tersebut, Imam Ibnu al-Qayyim selanjutnya menjelaskan, ringkasnya antara lain sebagai berikut:
Adapun yang pertama, yaitu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah terlebih dahulu mengetahui segala sesuatu sebelum segala sesuatu itu terjadi. Ini sudah menjadi kesepakatan seluruh Rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala, mulai dari Rasul Allah yang pertama hingga Rasul Allah penutup. Demikian pula telah menjadi kesepakatan seluruh Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta umat Islam sesudahnya yang mengikuti jejak mereka. Yang menyelisihi kesepakatan mereka adalah golongan Majusinya umat Islam ini. Dan penulisan segala sesuatu di Lauh Mahfuzh sebelum kejadiannya, membuktikan bahwa Allah sudah mengetahui segala sesuatu itu sebelum kejadiannya.
Beliau juga mengatakan hal yang sama tentang peringkat kedua, ketiga, dan keempat, tentang penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, tentang kehendak Allah bagi terjadinya segala sesuatu dan tentang penciptaan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Bahwa hal itu semua juga sudah merupakan kesepakatan seluruh rasul Allah dan kesepakatan semua kitab-Nya yang diturunkan kepada para rasulNya.
Di antara dalil-dalilnya yang sangat banyak antara lain firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan (yang mengandung berkah), dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa hasil yang diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman:34).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَيَعْلَمُهَا إِلاَّ اللهُ: لاَيَعْلَمُ مَا فِى غَدٍ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَاتَغِيْضُ الْأَرْحَامُ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ اللهُ. رواه البخاري

“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang berkurang dari rahim kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hujan datang kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia mati, dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah.” (HR. Bukhari dan lainnya).
Dalam riwayat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ، ثُمَّ قَرَأَ : (إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ …..). رواه البخاري

“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima. Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammembaca firman Allah (Luqman/31: 34): “Sesungghnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat,…”. (HR. Bukhari).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am: 59).
Juga firman-Nya,

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Bukankah engkau mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada di langit maupun bumi. Sesungguhnya yang demikian itu sudah tertulis di dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya penulisan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70).
Dua ayat di atas merupakan sebagian dalil tentang penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, sekaligus juga dalil tentang ilmu Allah terhadap segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, dan tidak ada sesuatupun yang tidak tertuliskan di Lauh Mahfuzh. Penulisan itu sangatlah mudah bagi Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda antara lain,

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ. قَالَ : وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ. رواه مسلم

“Allah telah menuliskan ketetapan takdir bagi segenap makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi. Nabi bersabda: Dan (waktu itu) Arsy-Nya sudah ada di atas air.” (HR. Muslim).
Demikianlah kekuasaan Allah dalam menetapkan takdir bagi makhluk-Nya. Dia berkuasa atas segala sesuatu. Ilmu-Nya meliputi segala hal. Dialah Rab kita, falaa haula walaa quwwata illaa billaah..

نَسْأَلُ اللهَ الكَرِيْمَ أَنْ يُبَصِّرَنَا جَمِيْعاً بِحُدُوْدِ دِيْنِهِ، وَأَنْ يُفَقِّهَنَا فِي شَرْعِهِ وَتَنْزِيْلِهِ، وَأَنْ يَّمُنَّ عَلَيْنَا بِالرِّزْقِ الطَيِّبِ اَلْحَلَالِ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَمْوَالِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنِانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى.

Kaum muslimin rahimakumullah
Ada banyak hikmah yang terkandung dalam beriman kepada takdir, diantaranya bahwa, beriman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang enam. Di samping itu juga merupakan sempurnanya keyakinan seseorang terhadap tauhid Rububiyah Allah Azza wa Jalla . Kemudian, dengan beriman kepada takdir, akan terwujud tawakkal yang benar kepada Allah tanpa mengabaikan usaha-usaha. Pun orang akan merasa tenang dalam kehidupannya karena memahami bahwa apa yang menimpanya pasti memang harus menimpanya, dan apa yang tidak akan menimpanya pasti tidak akan menimpanya.
Dengan beriman kepada takdir, orang juga tidak akan membanggakan diri sendiri ketika berhasil memperoleh sesuatu yang diinginkannya, dan tidak akan merasa sangat sedih ketika gagal memperolehnya. Sebab ia memahami bahwa kesuksesannya memperoleh sesuatu tidak lain kecuali karena ketetapan takdir dari Allah Azza wa Jalla . Sedangkan usaha yang ia lakukan hingga berhasil mendapatkan sesuatu, bukan lain karena usaha itu merupakan sebab yang dimudahkan oleh Allah baginya. Adapun ketika gagal memperoleh sesuatu, iapun memahami bahwa itu adalah ketetapan Allah, sehingga ia ridha menerimanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkan dua sikap di atas; tidak bangga terhadap diri sendiri ketika sukses meraih cita-cita, dan tidak sedih secara berlebihan ketika gagal meraih sukses, dalam firman-Nya,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴿٢٢﴾لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah . Agar kamu tidak bersedih hati terhadap yang luput dari kamu, dan tidak pula menjadi bangga terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23).
Demikianlah, sebenarnya sangat mudah memahami dan mengimani takdir Allah secara benar, yaitu hanya dengan tunduk kepada wahyu, dan tidak mendewakan akal. Akal harus tunduk kepada wahyu, bukan wahyu tunduk kepada akal. Sementara mengimani takdir tidak berarti meniadakan usaha, karena melakukan usaha merupakan perintah, sedangkan antara perintah dan takdir tidak bertentangan sama sekali. Wallahu al-Muwaffiq…

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَآمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ: اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

(Diadaptasi dari tulisan Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin di majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVI/1433H/2012M).


Translate

Popular Posts