Friday, October 28, 2016

Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الرَزَّاقِ ذِيْ القُوَّةِ المَتِيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اَلْإِلَهُ الْحَقُّ المُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ أَجْمَعِيْنَ؛ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.

Ketahuilah wahai kaum muslimin, yang semgoa dirahmati Allah, di antara nama Rabb kita Jalla wa ‘Ala adalah Ar-Razzaq. Yaitu yang di tangan-Nyalah kunci-kunci rezeki dan Dialah yang menanggung rezeki para hamba-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan begitu banyak sebab untuk memperoleh rezeki bagi para hamba-Nya dan hal itu telah Dia jelaskan di dalam Alquran dan dijelaskan pula oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sunnahnya. Dengan perantara-perantara yang telah dijelaskan itu, para hamba memperoleh kebaikan dan keberkahan, juga terhindar dari kejelekan dan keburukan.
Dalam kesempatan yang penuh berkah ini, khotib akan menyampaikan hal-hal terbesar menurut Alquran dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang menjadi penyebab seseorang memperoleh rezeki, kebaikan, dan keberkahan. Oleh karena itu, khotib mengajak para jamaah untuk merenungi ayat-ayat Alquran dan hadits-hadit Nabi yang akan kami sampaikan.
Ibadallah,
Pertama: Iman kepada Allah, amal shaleh, dan takwa kepada Allah Jalla wa ‘Alaadalah sebab terbesar yang bisa mendatangkan rezeki. Inilah asas, inti kebaikan, dan keberkahannya. Allah Ta’ala berfirman,

فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. Al-Hajj: 50).
Dia juga berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).
Kedua: Tawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya.
Dalam hadits dari Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung, yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Imam Ahmad).
Ketiga: Sabar.
Ibadallah,
Sabar adalah kunci yang membuka kesulitan dan pintu kemudahan. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).
Keempat: Doa.
Doa adalah kunci segala kebaikan di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang Allah berikan taufik untuk berdoa, maka tidak yang menghalangi doanya terkabul. Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menolak doa seorang hamba dan Dia tidak akan membuat kecewa seoarang mukmin. Di antara lafdz doa yang diajarkan Alquran adalah:

وَارْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama.” (QS. Al-Maidah: 114).
Ibadallah,
Barangsiapa yang mendapatkan kesulitan dan terlilit hutang, maka hendaknya ia memperbanyak doa kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Imam at-Tirmidzi dan selainnya meriwayatkan dari Ali radhiallahu ‘anhu.

عَنْ عَلِىٍّ رضى الله عنه أَنَّ مُكَاتَبًا جَاءَهُ فَقَالَ إِنِّى قَدْ عَجَزْتُ عَنْ كِتَابَتِى فَأَعِنِّى. قَالَ أَلاَ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ عَلَّمَنِيهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ جَبَلِ صِيرٍ دَيْنًا أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْكَ قَالَ « قُلِ اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ ».

“Ali radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa seorang budak yang ingin memerdekakan dirinya pernah mendatanginya dan berkata, “Sesungguhnya aku tidak sanggup untuk melunasi diriku, maka tolonglah aku.” Ali bin Abi Thalib berkata, “Maukah kamu aku ajarkah beberapa doa yang Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam mengajariku. Jikalau kamu mempunyai hutang seperti gunung Shir, niscaya Allah akan melunaskan hutangmu, katakanlah:

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Wahai Allah, cukupkanlah aku dengan harta yang halal darimu dan berilah kekayaan kepadaku dengan kemurahaan-Mu, yang aku tidak berharap dari selain-Mu.” (HR. Trimidzi).
Ibadallah,
Dalam hal ini, harus terdapat niat yang benar. Saat seseorang berhutang kepada yang lainnya, maka wajib disertai niat bersungguh-sungguh akan mengembalikan uang tersebut. Dengan niat yang benar seperti ini, maka Allah akan anugerahkan kepadanya rezeki dan pertolongan.
Dalam Shahih Bukhari, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang mengambil harta manusia, dan ia ngin melunasinya niscaya Allah akan melunasinya. Dan barangsiapa yang mengambilnya (dengan niat) ingin menghilangkannya niscaya Allah akan menghancurkannya.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ كَانَتْ لَهُ نِيَّةٌ فِى أَدَاءِ دَيْنِهِ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنٌ

“Tidaklah seorang hamba mempunyai niat melunasi hutangnya, melainkan ia memiliki pertolongan dari Allah ‘Azza wa Jalla.”
Diriwayatkan oleh Imam an-Nasa-i dari Maimunah radhiallahu ‘anha, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يدانُ دَيْنًا فَعَلِمَ اللَّهُ أَنَّهُ يُرِيدُ قَضَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا

“Tidaklah ada orang yang berhutang, dan Allah mengetahui bahwa ia berniat melunasi hutangnya, melainkan Allah akan melunasinya di dunia.”
Ibadallah,
Kelima: Bersyukur kepada Allah Jalla wa ‘Ala.
Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada kita termasuk sebab bertambahnya rezeki, melanggengkan kenikmatan yang sudah ada, dan mendatangkan kenikmatan yang belum diraih. Sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Ala,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7).
Keenam: Memperbanyak taubat dan istighfar.
Taubat kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun akan mendatangkan rezeki dan berbagai kebaikan serta keberkahan. Allah Ta’alaberfirman,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu.” (QS. Hud: 3).
Firman-Nya juga,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارً

“Maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).
Ibadallah,
Ketujuh: Menjaga silaturahim.
Silaturahmi atau silaturahim juga termasuk di antara sebab diluaskannya rezeki seseorang. Dalam Shahihain, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang suka untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim.”
Ibadallah,
Kedelapan: Berinfak, sedekah, dan mendermakan harta di jalan Allah.
Yang kedelapan adalah hendaknya seseorang mendermakan hartanya di jalan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).
Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Tidaklah berkurang harta karena disedekahkan.”
Ibadallah,
Kesembilan: Berikutnya adalah haji dan umrah akan mendatangkan rezeki.
Haji dan umrah dapat menghilangkan kefakiran. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan selainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi…”
Kesepuluh: Menikah dan mempunyai anak.
Menikah dan mempunyai anak dapat menambah dan mendatangkan rezeki. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.” (QS. An-Nur: 32).
Allah Ta’ala juga berfirman,

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُم

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu.” (QS. Al-Isra: 31).
Ibadallah,
Kesebelas: Hijrah di jalan Allah.
Hijrah juga merupakan sebab yang dapat mendatangkan rezeki. Allah Ta’alaberfirman,

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقاً حَسَناً وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Al-Hajj: 58).
Dalam permasalahan rezeki, ada juga hal yang sangat perlu diperhatikan seseorang. Yaitu agar seseorang tidak menjadikan dunia sebagai ambisi utamanya. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya.”
Ibadallah,
Kedua belas: Memulai aktivitas di waktu pagi.
Berusaha dan bekerja di waktu pagi adalah berkah. Terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Abu Dawud, dll. dari Shakhr bin Wada’ah al-Ghamidi radhiallahu ‘anhu,

أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”
Dan Nabi biasa mengutus pasukannya di awal hari. Shakhr radhiallahu ‘anhuadalah seorang pedagang. Ia memulai perdagangannya di awal hari, maka ia pun mendapatkan keuntungan dan harta yang banyak.
Abdullah bin Abbas suatu hari melihat anaknya tidur di waktu pagi, ia pun berkata, “Bangunlah! Apakah engkau tidur pada waktu rezeki sedang dibagi-bagikan?!”
Ibadallah,
Ketiga belas: Membantu orang lain yang sedang kesulitan.
Memenuhi kebutuhan orang lain dan berusaha mencari solusi atas masalah dan musibah yang mereka hadapi, termasuk di antara hal yang menyebabkan dilapangkannya rezeki. Sungguh Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut suka menolong saudaranya.
Dalam permasalahan ini, kita harus meninggalkan sifat ingin dianggap sebagai pahlamwan. Allah Ta’ala berfirman,

فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah.”
Keempat belas: Memperbanyak shalawat dan salam kepada Rasulullah.
Termasuk salah satu yang mendatangkan rezeki adalah memperbanyak shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dari sahabat Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu. Ubay bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُكْثِرُ الصَّلاَةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِى ؟ فَقَالَ: ((مَا شِئْتَ )) قُلْتُ الرُّبُعَ ؟ قَال: ((مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ)) قُلْتُ النِّصْفَ؟ قَالَ: ((مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ)) . قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ ؟ قَالَ: ((مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ)). قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلاَتِي كُلَّهَا – أي دعائي – قَالَ: ((إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

“Wahai Rasulullah, aku hendak memperbanyak shalawat kepadamu, berapa banyakkah aku harus bershalawat kepadamu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berapa saja sekehendakmu.” Aku katakan, “Seperempat?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Terserah engkau, dan jika engkau menambahnya, maka itu adalah suatu kebaikan bagimu.” Aku katakan, “Setengah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Terserah engkau, dan jika engkau menambahnya, maka itu adalah sebuah kebaikan bagimu.” Aku katakan, “Dua per tiga?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Terserah engkau, dan jika engkau menambahnya, maka itu adalah sebuah kebaikan bagimu.” Aku katakan, “Aku akan menjadikan shalawat kepadamu seluruhnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika demikian, maka semua keinginanmu terpenuhi, dan dosamu akan diampuni.”

نَسْأَلُ اللهَ الْكَرِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ العَظِيْمِ أَنْ يَرْزُقَنَا أَجْمَعِيْنَ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ، وَأَنْ يَنْفَعَنَا بِهَدْيِ كِتَابِهِ وَأَنْ يُوَفِقَنَا لِاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

أَقُوْلُ هَذَا الْقَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ:

اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ دِيْنُهُ وَدُنْيَاهُ.

وَاعْلَمُوْا – رَعَاكُمُ اللهَ- أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيْ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِراً وَمُعِيْناً وَحَافِظاً وَمُؤَيِّداً، اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنَ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ، وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ، وَأَعِنْهُ عَلَى طَاعَتِكَ، وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ، اَللَّهُمَّ وَفّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ أَعِنَّا وَلَا تُعِنْ عَلَيْنَا، وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا، وَامْكِرْ لَنَا وَلَا تُمْكِرْ عَلَيْنَا، وَاهْدِنَا وَيَسِّرْ الهُدَى لَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ، اَللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَ أَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، اَللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ البَّاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اَللَّهُمَّ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَاغْنِنَا مِنَ الفَقْرِ.

اَللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْباً إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمّاً إِلَّا فَرَجْتَهُ، وَلَا دَيْناً إِلَّا قَضَيْتَهُ، اَللَّهُمَّ وَلَا تَجْعَلْ فِيْنَا ضَالاً إِلَّا هَدَيْتَهُ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ دِقّهُ وَجِلَّهُ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ سِرَّهُ وَعَلَنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ .

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad


Saturday, September 10, 2016

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ أَكَرَمَ مَنْ يُرْجَى وَأَعْظَمَ مَنْ يُنِيْلُ نَوَالَا، خَلَقَ الخَلْقَ تُمْسِيْ وَتُصْبِحُ تَرْنُوْ الْبَقَاءَ وَتُؤَمِّلُ الْآمَالَا وَالحَادِثَاتُ تَنْعَى الْمُنَى وَتُقَرِّبُ الآجَالًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَا شَيْءَ أَعْظَمُ مِنْهُ وَلَا أَجَلُّ جَلَالًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مَاتَ وَلَمْ يُوَرِّثْ دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَلَا أَمْوَالًا، وَلَا شَيَّدَ القُصُوْرَ وَلَا أَطَالًا، وَلَا نَافَسَ فِي الْحُطَامِ وَلَا غَالَى، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلَاةً تَدُوْمُ وَتَمْتَدُّ وَتَتَوَالَى.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَآأَيُّهَ المُسْلِمُوْنَ:

لَازِمُوْا التَقْوَى تَسْعَدُوْا، فَبِهَا يُنَالُ جَسِيْمُ الْخَيْرِ وَالْفَضْلُ أَجْمَعُ، وَبِهَا تَزُوْلُ الشُّرُوْرُ عَنِ الْعَبْدِ وَتُدْفَعُ، وَيُنَجِّي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Kaum muslimin, sesungguhnya dunia adalah rendah dan fana, adapun akhirat mulia dan kekal. Kita diingatkan oleh ayat-ayat yang mulia dan penuh berkah, maka sungguh beruntung orang yang mendengar dengan seksama nasehat-nasehat yang bermanfaat dan wejangan-wejangan yang mengena. Lalu ia merenungkannya dengan akalnya, memahaminya dengan pikirannya, dan melaksanakannya dengan perkataan dan perbuatannya.
Allah berfirman :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’am: 32).

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلا تَعْقِلُونَ

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, Maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka Apakah kamu tidak memahaminya?” (QS. Al-Qashas: 60).

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلا تُظْلَمُونَ فَتِيلا

Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.” (QS. An-Nisa: 77).

وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا مَتَاعٌ

“Dan mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’du: 26).

أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا قَلِيلٌ

“Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah: 36).

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (١٦)وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17).
Dunia akan pergi, akan sirna dan berakhir. Adapun surga kenikmatan akhirat yang abadi dan kekal.
Dunia adalah kesenangan yang sedikit, rendahan, dan ujungnya adalah fana dan sirna, adapun surga kenikmatan yang abadi, tanpa ada kesudahannya, tidak akan pernah berakhir.
Dari al-Mustaurid bin Syaddad –semoga Allah meridhainya- ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟

“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR. Muslim no.2868).
Dunia seperti air yang tersisa di jari setelah dicelupkan di lautan yang meluap. Adapun akhirat, maka dialah seluruh lautan yang begitu luas, yang bergejolak ombaknya, dan meninggi terpaannya.
Maka apakah tidak berfikir tentang hakekat dunia seseorang yang mendahulukan sedikitnya dunia yang akan berakhir di atas mulianya akhirat dan bagiannya yang tinggi?

عَجِبتُ لِمُعجَبٍ بِنَعيمِ دُنيا … وَمَغبونٍ بِأَيّامٍ لِذاذِ

Aku heran dengan orang yang takjub terhadap dunia….
Dan ia telah tertipu dengan hari-hari penuh kelezatan…

وَمُؤثِرٍ المُقامَ بِأَرضِ قَفرٍ … عَلى بَلَدٍ خَصيبٍ ذي رَذاذِ

Dan ia lebih mengutamakan untuk tinggal di tanah yang tandus…
Dari pada di negeri yang subur disirami hujan rintik-rintik…

وَدُنْيَاكَ الَّتِي غَرَّتْكَ مِنْهَا … زَخَارِفُهَا تَصِيْرُ إِلىَ انْجِذَاذِ

Dan duniamu yang telah menjadikanmu terpedaya…
Perhiasannya akan hancur berkeping-keping…
Wahai hamba Allah…jika seandainya dunia berada pada kedua tanganmu, dan ditambah lagi dunia semisalnya untukmu, maka apakah yang tersisa darinya jika maut telah menjemputmu?

أَلاَ يَا سَاكِنَ الْبَيْتِ الْمُوَشَّى .. سَتُسْكِنُكَ الْمَنِيَّةُ بَطْنَ رَمْسِ

Wahai penghuni rumah yang penuh dengan hiasan…
Kematian akan memindahkan tempat tinggalmu ke dalam perut kuburan…

رَأَيْتُكَ تَذْكُرُ الدُّنْيَا كَثِيْرًا .. وَكَثْرَةُ ذِكْرِهَا لِلْقَلْبِ تُقْسِي

Aku melihatmu sering menyebut-nyebut tentang dunia…
Padahal sering mengingat dunia akan mengeraskan hati…

كَأَنَّكَ لاَ تَرَى بِالْخَلْقِ نَقْصًا .. وَأَنْتَ تَرَاهُ كُلَّ شُرُوْقِ شَمْسِ

Seakan-akan engkau tidak melihat manusia berkurang (karena terus ada yang meninggal)…
Padahal engkau melihat mereka (ada yang meninggal) setiap kali bersinar mentari…

وَمَا أَدْرِي وَإِنْ أَمَّلْتُ عُمْرًا .. لَعَلِّي حِيْنَ أُصْبِحُ لَسْتُ أُمْسِي

Dan aku tidak tahu –sementara aku berharap berumur panjang-…
Bisa jadi esok tatkala aku bertemu dengan pagi hari, aku tidak bisa bertemu lagi dengan petang hari…
Wahai hamba Allah…setiap hari selalu ada ibrah dan ibrah (pelajaran) yang datang…, pada setiap kematian ada pengingat untuk berhenti jika engkau termasuk orang yang mau berhenti…
Sampai kapan engkau begini…?, hingga kapan…? Sampai kapan engkau tidak sadar? Hingga kapan engkau tidak bertakwa?
Apakah setelah sirnanya dunia tempat beramal?, ataukah kepada selain akhirat engkau akan berpindah?
Jauh…, sungguh jauh sekali…, akan tetapi kedua telinga telah tuli dari mendengar ayat-ayat…hati telah lalai dari nasehat-nasehat…
Ingatlah waktu kematian….Takutlah engkau dengan waktu datang kematian…
Tangisilah dosa-dosamu yang telah lalu…, selamatkan jiwamu…jika tidak maka jiwamu akan binasa…
Pergilah menuju Robmu…berlepaslah dari dosa-dosamu…
Wahai hamba Allah…

إِلَى كَمْ تَمَادَى فِي غُرُوْرٍ وَغَفْلَةٍ       وَكَمْ هَكَذَا نَوْمٌ مَتَى يَوْمُ يَقْظَةِ

Hingga kapan engkau terus menerus tertipu dan lalai….
Begitu pulas engkau tertidur…kapankah hari engkau baru terjaga….

لَقَدْ ضَاعَ عُمْرٌ سَاعَةٌ مِنْهُ تُشِتَرَى       بِمِلْءِ السَّمَا وَالأَرْضِ آيَّةَ ضَيْعَةِ

Telah hilang sia-sia usiamu, yang sesaat dari usiamu dibeli dengan sepenuh langit dan bumi…, maka sungguh besar kesia-siaanmu…

أَفَانٍ بِبَاقٍ تَشْتَرِيْهِ َسَفَاهَةً       وَسُخْطًا   بِرِضْوَانٍ   وَنَارًا بِجَنَّةِ

Apakah engkau membeli sesuatu yang fana dengan bayaran sesuatu yang kekal karena kebodohan, kau beli kemarahan Allah dengan membayar keridhaan-Nya, kau beli neraka dengan membayar surga…?

أَأَنْتَ عَدُوٌّ أَمْ صَدِيْقٌ لِنَفْسِهِ   فَإِنَّكَ تَرْمِيْهَا بِكُلِّ مُصِيْبَةِ

Apakah engkau adalah musuh atau sahabat bagi dirimu sendiri…?, karena engkau membuangnya setiap kali musibah…

لَقَدْ بِعْتَهَا خِزْيٌ عَلَيْكَ رَخِيْصَةً     وَكَانَتْ بِهَذَا مِنْكَ غَيْرُ حَقِيْقَةِ

Sungguh engkau telah menjual jiwamu dengan murah…kehinaan bagimu…
Maka jiwamu dengan sikapmu tersebut bukanlah jiwa yang hakiki…
Maka sungguh merugi seseorang yang menjual kenikmatan surga dengan angan-angan dusta…dengan permainan yang menarik dan melalaikan…, dengan syahwat, dan perbuatan-perbuatan buruk, serta aib-aib yang tercela…
Maka sungguh merugi mereka yang menjadikan Allah murka…, mereka menyia-nyiakan umur mereka dalam kemaksiatan dan dosa-dosa..

قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Az-Zumar: 15).

إيَّاكَ أعْنِي يا ابْنَ آدَمَ فاسْتَمِعْ…. ودَعِ الرُّكونَ إلى الحياة ِ فتنتفِعْ

Kepadamu tujuanku wahai anak Adam maka dengarlah…
Tinggalkanlah bersandar kepada kehidupan niscaya engkau akan mendapatkan manfaat…

لوْ كانَ عُمْرُكَ ألفَ حولٍ كاملٍ… لمْ تَذْهَبِ الأيّامُ حتى تَنقَطِعْ

Seandainya umurmu sempurna seribu tahun…toh tidaklah berlalu hari-hari hingga akhirnya engkaupun meninggal…

يا أيّها المَرْءُ المُضَيِّعُ دينَهُ،…إحرازُ دينِكَ خَيرُ شيءٍ تَصْطَنِعْ

Wahai yang telah menyia-nyiakan agamanya…jagalah agamamu maka itulah yang terbaik yang kau lakukan…

فامْهَدْ لنَفسِكَ صالحاً تُجزَى بهِ،….وانْظُرْ لِنَفْسِكَ أيَّ أمْرٍ تتَّبِعُ

Siapkanlah untuk dirimu amal sholeh yang akan diberi ganjaran atasnya…
Dan lihatlah, perkara apakah yang (baik) engkau ikuti untuk dirimu…?

واعْلَمْ بأنَّ جَميعَ مَا قَدَّمْتَهُ…. عندَ الإلهِ، مُوَفَّرٌ لكَ لم يَضِعْ

Ketahuilah bahwasanya semua yang telah kau perbuat…
Tersimpan utuh di sisi Tuhan tidak ada yang hilang…

وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Muzammil : 20)

اَللَّهُمَّ أَجْزِلْ لَنَا الِهبَاتِ وَالعَطَايَا .. وَاغْفِرْ لَنَا الذُنُوْبَ وَالخَطَايَا .. يَاكَرِيْمُ يَا عَظِيْمُ يَاوَهَّابُ .. يَارَحِيْمُ يَاغَفُوْرُ يَاتَوَّابُ.

Khutbah Kedua :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا بَالِغًا أَمَدَ التَمَامَ وَمُنْتَهَاهُ، حَمْدًا يَقْتَضِيْ رِضَاهُ، وَيُوْجِبُ المَزِيٍدُ مِنْ زُلْفَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا عَفْوَ رَبِّنَا وَرُحْمَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَنَبِيُّهُ وَصَفِيُّهُ وَنَجِيُّهُ وَوَلِيُّهُ وَرَضِيُّهُ وَمُجْتَبَاهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنِ اسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيآأَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ:

اِتَّقُوْا اللهَ، فَإِنَّ تَقْوَاهُ أَفْضَلُ مُكْتَسَبِ، وَطَاعَتُهُ أَعْلَى نَسَبِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Kaum muslimin sekalian…sungguh orang yang setiap kali Allah berikan ia karunia dan kenikmatan yang baru…lantas iapun memperbarui juga dosa-dosa, pelanggaran, dan kemaksiatan…
Sungguh celaka orang yang setiap bertambah kebaikan baginya semakin bertambah pula kesesatannya…
Setiap kali bertambah harta dan kekayaannya…maka semakin bertambah pula jauhnya dan semakin tersesat…
Kenikmatan dan pemberian Allah terus tercurahkan kepadanya…, serta karunia dan anugerah-Nya…
Makanan yang menguatkannya…, air yang menghilangkan dahaganya…, pakaian yang menutup tubuhnya…, rumah yang menaunginya…, istri yang memperhatikan dan menemaninya…, keamanan yang tenteram yang menaungi dan melindunginya…
Sementara ia terus berada di atas dosa-dosa yang menghinakannya…, berlanjut dalam keburukan-keburukannya…terlepas dalam gelimang kemaksiatan…
Maka hendaknya berhati-hatilah dari ujian dengan kenikmatan dan kesenangan…sebagaimana kalian berhati-hati dari ujian kesulitan dan penderitaan…
Bisa jadi anugerah dan karunia datang dalam baju istidraj dan penangguhan dan penguluran…
Allah berfirman,

وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لأنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh (istidraj) Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Ali Imron: 178).
Dari Uqbah bin Amir –semoga Allah meridhoinya- ia berkata, “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيْهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika engkau melihat Allah memberikan anugerah dunia kepada hamba-Nya apa yang ia sukai, sementara sang hamba bermaksiat kepada-Nya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad no. 17311).
Ya Allah berilah taufik-Mu kepada kami menuju perkara-perkara yang Kau ridhoi, dan jauhkanlah kami dari perkara-perkara yang tidak Engkau ridhoi…Amin.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.اَللَّهُمّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَّقْوَى، وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ، وَأَلْبِسْهُ ثَوْبَ الصِحَّةِ وَالعَافِيَةِ، وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاجْعَلْهُمْ رَأْفَةً وَرَحْمَةً عَلَى عِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ.

رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .

عِبَادَ اللهِ: اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Shalah al-Budair (imam dan khotib Masjid Nabawi)
Oleh Ustadz Firanda


Khutbah Pertama:

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمّا بَعْدُ:

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ، وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ أُمُوْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ.

Kaum muslimin rahimakumullah,
Setiap pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا صَالِحًا» ، وفي رواية: «مُتَقَبَّلًا»

“Ya Allah, Aku memohon kepadamu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal shalih yang diterima.” (HR Ahmad).
Ibadallah,
Kalau kita perhatikan doa ini, kita melihat betapa Rasulullah sangat perhatian akan keempat hal ini. Karena empat hal inilah yang senantiasa beliau pinta setiap pagi, ketika akan memulai aktivitas di hari tersebut. Salah satu permintaan yang beliau ucapkan adalah permintaan rezeki yang halal. Mengapa Rasulullah menaruh perhatian yang besar pada rezeki yang halal? Dan mengapa kita, khususnya para kepala keluarga harus bekerja keras mencari rezeki yang halal dan menjauhi rezeki yang haram?
Di antara jawabannya adalah:
Pertama: Allah memerintahkan kita untuk menjemput rezeki dengan cara yang halal.
Allah Ta’ala berfirman,

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.         “ (QS. Al-Maidah: 88).
Di dalam ayat yang agung ini, Allah memerintahkan kepada kita semua untuk mencari rezeki yang halal. Halal dalam bentuk fisik benda atau rezeki tersebut dan halal dalam cara untuk mendapatkannya. Allah Ta’ala yang telah memerintahkan kepada kita. Dan seandainya kita ingin menjadi seorang yang beriman dan mencapai derajat takwa, maka jalan yang telah Allah tetapkan adalah seseorang harus mencari rezeki yang halal.
Kedua: Mencari rezeki yang halal bernilai ibadah di sisi Allah.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللَّهُ بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوصَهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ

“Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu” (HR. Muslim).
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Ketika kita bersedekah untuk kepentingan dakhwa Islam, kepentingan kaum muslimin, atau memberikan sebagian penghasilan kita kepada kedua orang tua kita, atau menyantuni anak yatim dan orang-orang miskin, agar semuanya bernilai pahala di sisi Allah, harus dari hasil yang halal. Karena Allah tidak menerima kecuali dari yang halal.
Jangankan sedekah kepada orang lain, infak atau nafkah yang kita berikan kepada keluarga kita, atau bahkan kepada diri kita sendiri, akan bernilai pahala ketika kita memperoleh harta tersebut dari jalan yang halal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَطْيَبُ الْكَسْبِ كَسْبُ الرَّجُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ؛ وَإِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ

“Sebaik-baik usaha adalah usaha seorang dari tangannya sendiri, dan sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk usaha kalian.”
Kemudian beliau melanjutkan,

وَمَا أَنْفَقَ الرَجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَخَادِمِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ

Dan tidaklah seseorang menafkahi dirinya, istrinya, anaknya dan pembantunya melainkan ia dihitung sebagai shodaqoh.” (HR. Ibnu Majah).
Sebaliknya, ketika kita mengeluarkan rezeki dari usaha yang haram, maka lelah dan letih kita tersebut tidak akan bermanfaat dan tidak akan diterima di sisi Allah sebagai amalan shaleh.
Ketiga: Agar doa kita dikabulkan oleh Allah Ta’ala.
Dijelaskan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali apa-apa yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mumin dengan apa yang telah diperintahkan kepada para rasul. Allah berfirman, ‘wahai para rasul, makanlah kalian dari apa yang baik-baik, dan beramal sholihlah, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian perbuat’. Dan Allah berfirman, ‘wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa yang baik-baik, yang telah Kami rezekikan kepada kalian’. Kemudian Rasulullah menggambarkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, nampak bekas perjalanan tersebut di sekujur tubuhnya, penuh debu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berseru ya rabb ya rabb, sedangkan makanannya adalah haram, minumannya adalah haram, dan pakaiannya adalah haram, dia tumbuh dari sesuatu yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dijawab?.” (HR. Muslim).
Kaum muslimin rahimakumullah,
Perhatikanlah sabda Nabi yang baru saja khotib bacakan. Seseorang yang disebutkan Nabi adalah orang yang dalam keadaan safar atau ia sebagai musafir, dan seorang musafir adalah doa yang mustajab, tidak ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian ditambah, ia juga seseorang yang miskin yang sangat membutuhkan. Ditambah lagi ia berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Allah malu menolak doa seseorang yang mengangkat kedua tangannya. Kemudian ia juga berdoa dengan bertawasul, menyebut nama Allah, ia berkata “Ya Rabb ya Rabb..”. Namun semua itu tidak bermanfaat dan semua itu tertolak, karena rezeki yang haram.
Ibadallah,
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufik kepada kita untuk mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mendekatkan kita kepada yang halal dan menjauhkan dari yang haram.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرّحِيْمُ

Khutbah Kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

Ibadallah, jamaah shalat Jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala.
Keempat: Agar kita masuk ke dalam surga dan jauh dari neraka.
Ini adalah sebab yang terpenting dan paling utama. Cita-cita seorang mukmin adalah dimasukkan ke dalam surga dan diselamatkan dari api neraka. Tidak ada lagi cita-cita yang lebih tinggi dari yang demikian. Harta yang berlimpah, apalah artinya tatkalan harus diakhiri dengan derita yang tak berujung. Gelimang kenikmatan dunia yang fana, tiadalah guna, apabila harus menderita kekal di dalam neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ جَسَدٌ غُذِيَ بِالْحَرَامِ

“Tidak akan masuk surga (yaitu) tubuh yang diberikan makan dari sesuatu yang haram.” (HR. Abu Ya’la).
Dalam sabdanya yang lain,

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ.

“Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka Neraka lebih pantas baginya.”( HR. Ath-Thabrani).
Oleh karena itu kaum muslimin, para kepala keluarga, berusahalah memperoleh rezeki yang halal dengan cara yang halal pula. Jangan Anda menjadi seseorang yang tega kepada keluarga Anda, menumbuhkan daging-daging mereka dari jerih payah yang haram. Membahagiakan istri dan anak bukanlah dengan cara memanjakan mereka dan memenuhi semua kebutuhan mereka, namun dengan cara-cara yang haram.
Seorang kepala keluarga ketika melihat istri atau anaknya tersentuh dengan api atau bahkan hanya beresiko terbakar oleh api di dunia, maka mereka akan segera menyelamatkannya dari bahaya api tersebut. Lalu bagaimana mereka bisa tega seorang kepala keluarga membiarkan anak dan istrinya terbakar dengan api akhirat yang jauh lebih dahsyat dari api dunia, lantaran mereka menafkahinya dengan harta yang haram.
Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Memberikan kita kecukupan dengan harta dan rezeki yang halal dari-Nya. Serta membuat kita tidak merasa butuh kepada jalan-jalan rezeki yang Dia haramkan.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّهُمّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنًاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنّكَ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبّنََا لاَتًؤَخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلىَ الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تُحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَنَا فَانْصُرْنَا عَلىَ الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبّنَا آتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ.


Translate

Popular Posts